Foto: satuislam.org

Pekan ini di bulan Ramadhan oleh umat Muslim di Indonesia dirayakan sebagai momen turunnya al-Quran. Bukan perayaan khusus, tapi sejumlah mesjid menggelar kajian ihwal peristiwa Nuzulul Qur’an. Di Istiqlal, seperti biasa, menjadi tempat kepala negara dan sejumlah pejabat negara menyambut momen Nuzulul Qur’an.

Penulis sendiri pada hari Selasa 21 Juni lalu, didaulat oleh DKM PLN Area Bogor bekerjasama dengan PPPA Darul Qur’an asuhan Ustadz Yusuf Mansyur, untuk memberikan sedikit uraian hikmah Nuzulul Qur’an di mesjid milik Perusahaan Listrik Negara Area Bogor tersebut.

Dalam kesempatan yang terbatas, karena hanya tersisa waktu 10 menit, penulis menyampaikan bahwa al-Quran adalah kitab suci yang keotentikannya wajib diimani setiap muslim. Allah SWT secara langsung menantang siapa saja yang meragukan kemukjizatan untuk membuat satu surat semisalnya. Nyatanya sampai hari ini tak ada yang sanggup melakukan hal itu. Oleh karenanya keimanan kepada al-Quran sebagai kalamullah adalah hal yang mutlak.

Namun hal lain yang acap terlupa, apa sebenarnya tujuan diturunkan al-Quran? Apakah ia hanya sekedar bacaan yang mendatangkan pahala bagi para pembacanya? Inilah persoalan umat Islam pada dekade ini.

Bila dahulu Rasulullah saw. sukses mengubah wajah peradaban manusia dari tataran jahiliyyah menjadi beradab dan bertauhid, itu adalah karena menjadikan al-Quran sebagai petunjuk  (huda) dan penjelas (bayan) serta pembeda (furqon) dalam kehidupan.

Rasulullah saw. Dan kaum muslimin berpegang teguh pada firman Allah SWT.

Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.(TQS. Thaha: 123)

Janji Allah itupun terwujud. Kaum muslimin – kala itu mayoritas bangsa Arab – tidak lagi menjadi bangsa yang jahiliyyah, merendahkan wanita, mempraktekkan riba, kecurangan dalam perdagangan. Semua taat pada petunjuk al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Perubahan peradaban itu pun terjadi dengan drastis. Kemakmuran dan kesejahteraan – juga nilai-nilai kemanusiaan dengan landasan tauhid – merebak di setiap wilayah yang sudah menjadi bagian Islam.

Fenomena ini yang menginspirasi Michael Hart dalam bukunya 100 menempatkan Rasulullah di puncak daftar tokoh berpengaruh dalam sejarah kehidupan manusia.

Lalu sekarang, setelah kita berulangkali memperingati Nuzulul Qur’an, adakah perubahan sosial yang terjadi? Sejujurnya belum. Saat ini krisis moral terus menggerogoti negeri di semua lini. Korupsi, manipulasi politik, kriminalitas, perceraian, narkoba, dan perpecahan mengancam negeri. Belum lagi intervensi asing yang menjarah kekayaan alam.

Apakah kita tidak merasa aneh padahal al-Quran masih ada di tengah-tengah kita? Masih dikumandangkan? Bahkan sekarang berdiri ribuan pesantren penghafal al-Quran?

Adakah yang salah dengan al-Qur’an, ataukah cara kita menyikapi al-Qur’an yang keliru? Tidak seperti yang dilakukan oleh generasi awal kaum muslimin yang berujung pada kejayaan?

Ya, hari ini al-Qur’an masih ada di tengah-tengah kita. Dibaca dan dihafalkan. Tapi umat muslim jiwa dan raganya tidak terikat dengan petunjuk al-Qur’an. Malah ada orang yang meragukan kebenaran al-Qur’an, mencela al-Qur’an, bahkan belakangan muncul anak-anak bau kencur yang berlomba-lomba menghina al-Qur’an dengan mengunggah foto seolah-olah mereka mau menginjaknya. Innalillahi wa inna ilayhi rajiun.

Al-Qur’an hari ini memang disakralkan, tapi baru sebatas benda dan bacaannya. Bukan petunjuknya. Justru bagian yang terpenting itu adalah petunjuknya. Kita justru berlari dari petunjuk al-Qur’an. Padahal di dalamnya ada solusi sosial yang mengubah wajah negeri ini ke arah yang lebih baik.

Maka ada baiknya kita menyimak nasihat Imam Malik tentang sebuah perbaikan sosial. Guru dari Imam asy-Syafi’i ini berpesan, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.

Bagaimanakah cara generasi awal memperlakukan al-Qur’an hingga bisa menciptakan perubahan sosial yang luar biasa? Mereka berprinsip ‘mendengar dan taat’ kepada al-Qur’an dan pembawanya, Rasulullah SAW. Inilah ‘revolusi’ mental yang sebenar-benarnya dan mendapatkan garansi dari Pemilik Langit, Allah Azza wa Jalla.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY