Foto: pixabay.com

Ketika sudah menikah, seharusnya tidak ada lagi aku atau kamu, karena telah menjadi KITA. Ya, jika dalam pernikahan masih ada peng-AKU-an alias egoisme masing-masing, maka bukan tak mungkin keharmonisan hanya akan menjadi harapan. Sebab, sepasang suami istri adalah sepasang sahabat yang sedang membangun bersama-sama sebuah harapan, cita-cita dan tujuan. Jika salah satunya masih butuh pengakuan, maka akan ada yang lainnya harus diminta mengakui.

Seorang suami yang butuh pengakuan hanya akan melihat seorang istri tidak bisa berbuat apa-apa. Seorang istri yang butuh pengakuan, akan melihat suami bisanya hanya menghardik kekurangan. Bukankah kita sering mendengar kalimat klise “Tidak ada manusia yang sempurna”? Jika iya, sebenarnya tidak perlu menuntut kesempurnaan dan tidak perlu merasa paling sempurna.

Islam telah menempatkan hak dan kewajiban masing-masing suami dan istri dengan porsi yang proporsional dan manusiawi. Jika dalam pemenuhan hak kepada pasangannya ada kelemahan dan kekurangan, maka begitulah adanya manusia. Sebuah hubungan persahabatan dalam rumah tangga tidaklah selalu baik, akan selalu ada riak gelombang yang kadang menjumpai. Sebagai sahabat bagi yang lain harusnya saling mendukung ketika menjumpai riak gelombang tersebut. Saling menutupi kelemahan pasangannya agar persahabatan itu menjadi sempurna. Allah sudah menyampaikan kepada kita bahwa pasangan kita ibarat pakaian (QS. Surat Al Baqarah ayat 187).

Peng-AKU-an hanya akan menjadi konflik yang berkepanjangan, jika tidak segera disadari dan disudahi. Keegoisan dan penilaian dengan harga mati atas kekurangan pasangan kita adalah salah satu sumber yang tidak sehat dalam hubungan keluarga. Sebaiknya kita mulai berpikir untuk memberikan maaf terhadap kekurangan atau kelemahan pasangan kita. Bukankah kita dulu telah memilihnya, dan apa yang telah kita pilih harus siap dengan konsekuensinya. Pasangan kita adalah manusia biasa yang dulu kita tidak pernah bisa ‘memesan’ karakter, sifat, kekurangan maupun kelebihannya.

Itulah cara Allah memberi kita kesempatan, untuk membuat ladang-ladang amal yang baru ketika melihat kekurangan pasangan kita dan kita sempurnakan (mungkin) dengan kelebihan kita.

Konflik itu bukannya tidak ada, tapi juga tidak perlu dia-adakan demi alasan membenahi pasangan. Proporsional saja, apa yang bisa dan perlu kita sempurnakan dari kekurangan pasangan kita. Seideal apapun pasangan yang pernah ada dalam bayangan kita, akan menjadi menyakitkan jika itu kita paksakan pada pasangan kita. Sehingga selamat menikmati kekurangan yang ada pada pasangan kita, dan mari menjadikannya sebagai ladang amal ibadah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. []

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY