Foto: Istimewa

Toleransi di tanah air nampaknya masih dimaknai absurd dan tanpa batasan yang jelas, bahkan cenderung menyudutkan Islam dan kaum muslimin. Sebagai contoh, di bulan Ramadhan ini, di saat kaum muslimin diwajibkan melaksanakan ibadah shaum, justru muncul seruan “hormati orang yang tidak berpuasa”.

Berangkat dari kasus razia sebuah warung nasi di Serang, publik digiring untuk berpikir toleran pada mereka yang tidak berpuasa. Dalam bahasa lain, orang yang tidak mau taat beribadah, menjadi ahli maksiat, juga punya hak untuk dihormati termasuk oleh mereka yang sedang beribadah. Pemikiran kacau macam ini terus dikampanyekan dengan alasan toleransi kehidupan umat beragama.

Stasiun tv Kompas Isu misalnya secara khusus mengangkat kejadian ini secara eksklusif. Pemberitaan tendensius itu juga melebar hingga menggugat perda-perda syariah di sejumlah daerah.

Dari sini kita paham bahwa ada beberapa pihak yang melemparkan isu toleransi kehidupan umat beragama sebagai serangan kepada ajaran Islam dan kaum muslimin. Mereka bersungguh-sungguh ingin melucuti umat Islam agar terlepas dari syariat Islam. Maka isu pelarangan Ahmadiyah, pelarangan pendirian gereja di daerah mayoritas umat Islam, perda syariah, dan terakhir persoalan razia warung nasi di bulan Ramadlan, dijadikan tema-tema untuk membully umat Islam.

Logika yang sering mereka pakai sebenarnya logika yang ‘cekak’, tidak bermutu. Misalnya dalam tema ‘hormati orang yang berpuasa’ mereka lawan dengan logika ‘ibadah kok minta dihormati?’, atau ‘hormati juga dong orang yang tidak berpuasa’, ‘orang berpuasa harus sabar hadapi godaan’, atau ‘kalau imannya kuat dan ibadahnya benar nggak bakal tergoda dengan warung nasi’.

Logika ini hanya ditujukan kepada umat Islam, tapi tidak kepada umat beragama lain. Misalnya tidak pernah kalangan ini meminta umat Hindu misalnya untuk menghargai juga orang yang tidak merayakan Nyepi. Karena saat perayaan Nyepi semua aktifitas di pulau Bali harus dihentikan, bahkan azan pun tidak diizinkan untuk dikeraskan. Atau misalnya tidak pernah mereka menyeru pengusaha non muslim agar tidak memaksa pegawainya untuk memakai atribut natal atau ikut serta dalam perayaan natal. Padahal banyak karyawan muslim yang bekerja pada pengusaha non muslim diwajibkan mengenakan asesoris natal dan juga terlibat dalam perayaan Natal.

Dari sini kita bisa melihat bahwa seruan toleransi umat beragama yang sering digaungkan, ternyata mengandung itikad tidak baik kepada umat Islam. Para penyeru toleransi ini sengaja dan berniat ingin merusak suasana beragama kaum muslimin. Karena bila mereka memang jujur dan tulus ingin menegakkan toleransi, semestinya perlakuan sama juga diberikan kepada umat Islam. Kenyataannya sampai hari ini banyak umat Islam yang dipaksa untuk ikut dalam agenda ibadah mereka, atau dilarang mengerjakan ibadah dengan alasan pekerjaan, dsb.

Sayangnya, ada saja orang Islam yang ikut-ikutan slogan-slogan cekak ini. Biasanya mereka dari kalangan awam tapi kemudian belagak intelek, atau memang intelek yang tidak mau berbaju ajaran Islam kemudian mengajak sesama kaum muslimin untuk melepaskan baju keislaman mereka.

Toleransi – seluas apapun – semestinya ada batasnya. Tidak patut dengan dalih toleransi lalu kemudian pihak lain merusak ajaran agama umat lain, apalagi merusak ajaran Islam. Dalam Islam, tema tentang akidah dan hukum halal-haram, adalah harga mati yang tidak boleh diubah-ubah semaunya meski dengan dalih toleransi.

Di sisi lain ada ajaran tasamuh atau toleransi pada umat lain sesuai dengan koridor syariat Islam. Dimana kaum muslimin diajarkan untuk menghormati ibadah dan keyakinan umat lain.

Dengan begitu, bila memang ingin menegakkan toleransi, maka tegakkanlah syariat Islam. Tapi bila ingin menegakkan toleransi bukan dengan Islam, maka itu hanya logika yang cekak dan tidak ada rasa keadilan. Yang ada justru saling merusak ajaran agama mereka masing-masing. Semoga kita terjaga dari logika toleransi yang cekak dan gagal fokus dalam persoalan ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY