Sumber: pixabay.com

Ada pasangan yang hingga hari ini mungkin masih bertanya-tanya apakah suami-istri yang sekarang ini jodoh atau bukan? Pertanyaan itu muncul dan mungkin juga berkecamuk, karena seiring waktu ternyata ada yang merasa tidak cocok. Dengan berbagai dalih, akhirnya flashback ke masa lalu di masa awal bertemu dan memutuskan menjadi suami-istri. Seperti ada yang merasa bersalah dalam memilih pasangan dulu karena merasa pasangannya tidak sekufu. Baik tidak sekufu dalam hal harta, pendidikan maupun kedudukan di masyarakat.

Islam telah menempatkan pernikahan sebagai penyempurna separoh agama yang ada pada diri kita. Sehingga hikmah dari disyariatkannya pernikahan adalah adanya ‘sakinah’ (kebahagian). Namun jika dalam perjalanan berumahtangga tidak ditemui adanya sakinah, jangan buru-buru menyalahkan syariatnya. Karena syariat tak pernah salah, hanya kita saja yang salah dalam memahami dan mempraktikkanya dalam kehidupan.

Dalam pernikahan, suami-istri adalah penyempurna dien bagi pasangannya di dunia, dan kelak di akhirat berharap bisa menjadi sahabatnya di jannah-Nya. Sebagaimana kalimat indah yang diuntaikan oleh Allah SWT kepada kita: “Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan.” (QS. az-Zukhruf: 70)

Menjadikan alasan ketidakharmonisan dengan menuduhkan kepada ketidaksekufuan pasangan adalah terlalu klise. Pasangan tidak harus sekufu, yang perlu sekufu adalah dalam masalah keimanan:

وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. Al Baqarah: 221).

Sejarah mencatat, bahwa pernikahan di masa para sahabat yang tidak sekufu dalam masalah harta, kedudukan, masing-masing baik saja. Seperti pernikahan Bilal bin Abi Rabah ra. yang hanya seorang budak dan digambarkan dalam berbagai riwayat, badannya hitam, namun bisa dan boleh menikahi Halah binti Auf adik perempuan Abdurrahman bin Auf ra. yang merupakan keluarga saudagar kaya. Ada juga Fathimah binti Qais al-Fihriyyah menikah dengan Usamah bin Zaid ra., putra Zaid bin Haritsah mantan budak Rasulullah saw. Kemudian juga ada pernikahan Salim mantan budak Abu Hudzaifah menikahi Hindun binti Utbah bin Rabiah, wanita bangsawan Quraisy.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY