Sumber: treta.com.br

(sebuah unggahan untuk men-charger kasih sayang suami-istri)

“Dlm hdp, aq bljar…
Bljar tuk mncintai
Tuk gembira,
Tuk menjadi dewasa
Tuk mngrti arti khidupan.
Tp q tak prnah blajar
Bljar tuk mlupakanmu J“
“Karena wanita ingin dimengerti”

Sender: dari belahan jiwamu yang telah memilih menemanimu di sisa usianya

Untuk mengawali pembahasan ini, saya mengutip sebuah kisah, tapi kisah ini dialami oleh sepasang suami-isteri. Buat sahabat pembaca yang belum punya isteri atau suami, nggak usah ngiler, tunggu aja tanggal mainnya. Dan nggak usah mencocok-cocokkan keadaanya dengan pacar, karena pacaran itu dosa, sementara apa yang dilakukan suami-isteri malah berpahala. Penasaran ya?!

Begini ceritanya. Ada seorang suami harus lembur kerja dan belum bisa pulang hingga waktu makan malam tiba. Tiba-tiba, tuutt…tutt..tuut, nada dering sms di inbox hape sang suami berbunyi, dengan cekatan meraih hape diatas meja kantornya dan dibacanya, ternyata dari sang isteri tercinta, bunyinya cukup singkat “I lov u, dah mkn lum?”. Karena saking sibuknya, sang suami mengabaikan sms pertanyaan dari isterinya tersebut. Dan kejadian itu terjadi bukan hanya sekali di hari itu aja, tapi di lain waktu, lain hari, sang suami masih juga nggak ngeh dengan sms isterinya semacam itu. Padahal, andai saja, sang suami bisa memahami bahwa wanita ingin dimengerti. (dipenggal dari buku “Muslimah Semesta”)

Sahabat, sesungguhnya suami istri secara bersama-sama memiliki saham dalam keberhasilan dan kebahagiaan keluarganya. Sehingga sangat tergantung bagaimana awalnya kita membangun pondasi keluarga itu dan yang nggak kalah penting adalah merawat bangunan rumah tangga yang sudah terbentuk tersebut.

Di coretan singkat kali ini, kita fokus pada masalah “pemeliharaan”. Ya, meskipun hanya sekedar SMS, bagi sebagian orang tidaklah penting, tapi coba kita merenung sejenak kisah yang saya penggal diatas. Bagaimana kalau keadaan diatas (pengabaian sms) itu terjadi berulang-ulang? Pada pelajaran sebuah training yang saya dapatkan, bahwa menjawab sms itu hukumnya wajib (baca: harus), meskipun hanya dengan jawaban “Ya, Tidak, Ok, Baiklah, dan sebagainya”. Agar pengirim sms benar-benar yakin bahwa sms yang dikirim sampai ke yang dikirim.

Maaf ini bukan promo operator selular, tapi seberapa berat sih membalas sms dari suami-istri kita? Saya bisa katakan alasan “basi”, kalo ada yang beralasan “lagi nggak punya pulsa”. Sekarang pulsa sms murah banget, seharga krupuk, apalagi kalau sesama operator. Kalau pun kita pas lagi benar-benar bokek, maka sebagai manusia cerdas, kita harus cari akal agar sms itu terbalas.

Sahabat, dari yang saya pelajari selama ini (sebagian sudah saya praktikkan), ada 3 kata “magic” harusnya jadi kebiasaan suami-istri, karena memang kehidupan suami-istri adalah kehidupan persahabatan. Apa 3 kata itu? Kata “Maaf”, “Terimakasih”, “Tolong”. Seberapa sering kita mengatakan itu pada suami-istri kita? “Maaf istriku, aku malam ini pulang terlambat, karena masih ada rapat…..”, “Terimakasih, istriku hari ini kau telah menjaga anak2 ku…”, “Maaf Pah, Tolong ya, ntar klo pulang skalian mampir …. Trimakasih suamiku”. Coba indah banget kan? Bagaimana kalau kata-kata yang luar biasa dahsyatnya itu, berlalu begitu saja? Bagaimana kalo tidak pernah ada yang memulai untuk menyampaikannya, ataupun tidak pernah ada yang berusaha membalasnya?

Sahabat, apakah kita termasuk yang menyepelekan suatu hal yang kecil? Jika Ya, jawaban kita, maka mulai saat ini, hendaknya kita “taubat” menyepelekan hal kecil. Bukankah kalau itu sebuah dosa kecil yang selalu kita sepelekan, maka akan berkembang menjadi noktah, dari noktah menjadi gumpalan, setelah menjadi gumpalan, kita tidak pernah tahu lagi, mana dosa kecil itu. Demikian pula, kalo menyepelekan kebaikan kecil yang kita lakukan artinya kita tidak pernah berpikir untuk melakukan kebaikan meskipun itu kecil, maka kenapa kita (maaf) bertahan menjadi seorang muslim? Karena hakekatnya seorang muslim adalah pembuat kebaikan (ihsanul amalah) dan selalu menyampaikan kebaikan (dakwah ilal haq).

Nah, sahabat hari ini kita belajar dari sebuah SMS. Jika kita masih meremehkan kebaikan atau keburukan yang kecil, sebaiknya kita simak firman Allah SWT:

 “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (TQS. Al-Zalzalah: 7-8).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY