Foto: Istimewa

Bung Karno, proklamator RI, memberikan kredo penting pada negeri ini: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Ucapan ini lalu disingkat menjadi JAS MERAH. Sejarah memang penting untuk diingat, bukan sekedar memori, tapi untuk diambil pelajaran.

Di antara sejarah yang begitu krusial dan menentukan nasib bangsa, adalah ketika negeri ini pernah dibekap dan nyaris dihancurkan oleh ideologi komunisme. Komunisme yang direpresentasikan oleh PKI di tanah air, sudah melakukan dua kerusakan parah di negeri ini; kerusakan politik dan kerusakan keagamaan bagi umat Islam.

Kerusakan politik yang dilakukan PKI adalah mencoba membelokkan kemudi negeri ini ke blok komunis. PKI mengarahkan ideologi rakyat Indonesia ke komunisme dan tunduk pada rezim Uni Soviet serta Tiongkok. Begitu kuatnya pengaruh PKI sampai-sampai Presiden Soekarno kala itu tak berkutik menghadapi lingkaran tokoh-tokoh komunis di sekelilingnya.

PKI juga tak segan-segan melakukan pembantaian terhadap siapa saja yang mencoba menghalangi langkah mereka. Sekurang-kurangnya dua kali PKI melakukan aksi berdarah yang menelan korban jiwa, di Madiun pada tahun 1948 dan di Jakarta pada tahun 1965.

Komunisme juga memunculkan krisis keagamaan bagi umat Islam. Tidak sedikit muslim yang tidak memahami dengan utuh ideologi sosialisme-komunisme – serta tidak memahami ajaran Islam secara syamilan dan kamilan –menjadi pengikut ideologi ini.  Mereka juga menyusup ke dalam organisasi Islam untuk memecah belah dan merusak akidah umat. Kelicikan para pengikut komunis ini misalnya berhasil memecah belah Syarikat Islam melalui tokoh-tokoh komunis mereka yaitu Semaun dan Alimin.

Umat jangan lupa bahwa dalam perjuangannya, PKI menghalalkan segala cara, mulai dari manipulasi politik sampai pembunuhan. Dalam pemberontakan mereka di Madiun pada tahun 1948 ratusan santri dan kyai Nahdlatul Ulama dibasmi oleh barisan PKI. Mereka paham betul kalau Islam dan barisan kyai adalah kelompok pertama yang dapat menghalangi langkah politik mereka sehingga harus dihabisi. Ada yang bisa dibujuk dengan jabatan dan uang, yang tak bisa maka ditumpas.

Tapi pesan Bung Karno nampaknya mulai terbawa angin lalu. Hari ini muncul segelintir orang yang menggugat pemerintah dan bangsa untuk meminta maaf atas tindakan mereka kepada para anggota PKI. Dengan atas nama HAM, kelompok-kelompok ini dibantu media massa –sekuler-liberal berskala nasional mulai meniupkan pembelaan kepada PKI, dan mencoba melupakan makar keji mereka yang sudah tercatat dalam sejarah.

Memang benar ada tindakan politik pemerintah yang harus diluruskan semisal menjatuhkan sanksi politik birokratis ‘tujuh turunan’ kepada keluarga anggota PKI. Sanksi ini jelas tidak manusiawi dan berbau dendam kesumat. Maka perlu untuk diluruskan.

Tetapi melupakan makar dan ancaman ideologi komunisme adalah tindakan gegabah dan mengkhianati sejarah. Maka sungguh heran bila belakangan sejumlah kalangan justru bersikap santai menanggapi bermunculannya simbol-simbol komunisme di masyarakat. Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Menkopolhukam Luhut misalnya meminta publik agar tidak reaktif dan membesar-besarkan bermunculannya simbol komunisme. Termasuk ketika tahun lalu pemenang Putri Indonesia dalam satu acara di Vietnam menggunakan kaos berlogo palu arit nyaris tidak ada yang bereaksi, kecuali dari publik belaka.

Sejumlah kalangan dan LSM seperti Kontras juga tengah berjuang agar pemerintah menghapuskan pasal-pasal yang berhubungan dengan komunis, termasuk juga Ketetapan MPRS tentang komunis. Sementara majalah Tempo menurunkan editorial berjudul Akhiri Fobia Komunisme. Majalah ini menilai tindakan aparat merazia logo komunisme sebagai fobia dan konyol.

Konyol?

Kelompok-kelompok itu bersikap beda betul ketika bermunculannya logo kalimat tauhid yang sering digunakan ISIS. Sejumlah anak muda di tanah air yang memakai kaos berlogo kalimat tauhid seperti itu langsung diciduk aparat keamanan. Ada ISIS-phobia atau tepatnya Islamphobia, karena sebenarnya simbol itu adalah kalimat tauhid, bukan milik kelompok atau organisasi manapun. Dan ketika itu nyaris tak ada pembelaan dari media massa ataupun pejabat pemerintah.

Hal yang sama ketika Hizbut Tahrir Indonesia berencana menggelar Muktamar Tokoh Umat yang mengajak umat Islam agar kembali pada Syariat Islam, penentangan muncul di mana-mana. Justru datang dari kaum muslimin, bahkan ada yang menyamakan gerakan kembali pada syariat ini sama bahayanya dengan PKI.

Kini, saat komunisme dihembuskan, sikap pemerintah malah seperti menunggu angin; melihat reaksi publik. Lebih tragis lagi di sejumlah media sosial secara terang-terangan banyak orang Indonesia membela komunisme dan menyatakan komunisme tidak membahayakan NKRI. Seorang mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di AS, menyatakan terang-terangan komunisme harus dibela karena tidak berbahaya bagi NKRI. Mirisnya dia adalah pengurus cabang satu ormas Islam besar di tanah air, perwakilan di Amerika sana.

Arus pembelaan pada komunisme itu semakin hari semakin kuat. Talkshow, pemberitaan, buku-buku, gerakan mereka terus mengalir dan seperti mendapat pemakluman. Ideologi komunisme hidup di dunia kampus, buruh, petani, pedagang, dan apa yang mereka katakan sebagai kaum proletar. Apalagi sudah menjadi ‘pengetahuan umum’ tokoh-tokoh pembela komunisme itu ikut berada dalam gerbong parpol-parpol yang sekarang berkuasa.

Sedangkan arus Islam yang mencoba menggugah kesadaran umat untuk kembali pada ajaran yang benar, justru mendapat penentangan disana dan disini, juga oleh sesama muslim. Padahal dalam sejarah, kelompok-kelompok Islamlah yang berada di garis terdepan melawan komunisme.

Tapi hari ini Islam diperlakukan seperti pesakitan, hanya boleh diamalkan sebatas ibadah dan ahwalusy syakhsiyyah belaka seperti nikah-talak-rujuk, lebihnya tak boleh. Maka kita patut bertanya, mau dibawa ke mana arah negeri ini?

Sumber bacaan:

  1. http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/15/10/09/nvyehw1-kisah-senyap-pembantaian-pki-1948
  2. https://www.islampos.com/ini-fakta-kekejaman-pki-terhadap-umat-islam-270840/
  3. https://www.islampos.com/kebiadaban-pki-pesantren-dilumpuhkan-kiai-dibantai-masjid-dibakar-206842/

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY