BOGORAYA - Ketaatan Dalam Jamaah | http://bogoraya.com
BOGORAYA - Ketaatan Dalam Jamaah | http://bogoraya.com

Bogoraya.com, Bogor – Banyak orang yang meletakkan ketaatan kepada pemimpinnya baik itu kepada pemimpin partai, pemimpin jamaah, organisasi maupun Negara secara membabi buta. Mereka mentaati pemimpin tanpa batasan batasan yang dibenarkan oleh hukum syara’. Mengiyakan kata kata pemimpin tanpa perlu dikaji ulang apakah perintahnya tersebut sesuai atau melanggar hukum syara’. Sehingga lebih terkesan taklid buta terhadap keberadaan seorang pemimpin tersebut.

Memang ketaatan itu adalah hal yang sangat fundamental dalam Syiasah dan Dakwah Islamiyah. Akan tetapi bukan berarti kita lantas meletakkan ketaatan kepada pemimpin itu secara serampangan tanpa ada batasan batasan yang jelas. Karena ketaatan kepada pemimpin itu sifatnya tidak mutlak sebagaimana ketaatan kita kepada Allah dan Rosulullah Muhammad SAW.

Hal tersebut dijelaskan oleh Allah dalam Firmannya :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri diantara kamu. (QS. an-Nisa : 59)

Maksud dari ayat di atas adalah wahai kaum muslimin hendaklah mentaati Allah dan Rosullnya serta Ulil Amri (yang mentaati Allah dan RosulnNya) diantara kalian. Artinya ketaatan kepada Allah dan Rosulullah memiliki skala pioritas mutlak. Sedangkan ketaatan kepada pemimpin memiliki batasan dan syarat syarat yang berlaku, yaitu ketika pemimpin tersebut taat pula kepada Allah dan RosulNya.

Hal tersebut senada dengan apa yang diajarkan oleh Rosulullah dalam beberapa hadisnya

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)

من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله، ومن أطاع الأمير فقد أطاعني ومن عصى الأمير فقد عصاني

Siapa saja yang taat kepadaku, maka berarti dia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti dia telah mendurhakai Allah. Siapa saja yang taat kepada amir, maka berarti dia telah mentaatiku. Dan siapa saja yang durhaka kepada amir, maka berarti dia durhaka kepadaku. (HR. Bukhari dan Muslim)

عَلَى الْمَرْءِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Wajib bagi seseorang untuk mendengar dan taat dalam apa yang ia sukai dan benci, kecuali ia diperintah berbuat maksiat. Maka bila ia diperintah berbuat maksiat, ia tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari no. 2955 dan Muslim no. 1839)

Keberadaan Amir/Pemimpin memang untuk ditaati oleh para pengikutnya (orang yang dipimpin), sebagaimana imam shalat yang harus diikuti oleh semua makmumnya. Seorang amir al jaisy harus ditaati oleh semua pasukannya, Seorang amir jamaah/partai (hizb) harus ditaati oleh semua anggotanya. Seorang Kholifah harus pula ditaati oleh seluruh warga Negara yang berbaiat kepadanya

Agar ketaatan kita kepada pemimpin adalah merupakan ketaatan yang benar dan berdasar, kita harus memiliki landasan landasan yang kuat untuk meletakkan ketaatan tersebut. Syekh Said Hawwa  dalam menjelaskan rukun ketaatan menyebutkan bahwa ketaatan yang sempurna tidak mungkin terwujud tanpa adanya Ilmu dan Tsiqoh.

 

Ilmu landasan dalam ketaatan

Ilmu adalah landasan semua amal dalam kehidupan setiap manusia. Karena amal tanpa ilmu akan menjadikan amal tersebut rusak atau bahkan terjadi penyimpangan yang bisa jadi membahayakan dirinya maupun membahayakan ummat secara keseluruhan. Oleh karena itu Ilmu merupakan landasan fital yang harus dimiliki ketika kita hendak meletakkan ketaatan kepada pemimpin.

Islam melarang kepada ummatnya untuk berbuat taklid buta. Taklid yang tanpa dasar. Hal tersebut seperti yang disalmpaikan Allah dalam firmanNya :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra’ :36)

Itulah pentingnya ilmu. Sebagai gambaran, seorang makmim yang mengetahui syarat dan rukun shalat, dia akan bisa mengetahui ketika Imam melakukan perintah yang salah dalam memimpin jamaah. Akan tetapi makmum yang tidak berilmu pasti dirinya tidak akan mampu mengerti ketika imam melakukan kesalahan. Akan tetapi menjadi celaka ketika makmum yang tahu rukun dan syarat sholat dan dirinya mengetahui perintah imam salah tetapi dirinya “ewuh pekewuh” , merasa imam lebih faham darinya sehingga dirinya membiarkan kesalahan tersebut terjadi. Maka semua jamaah akan melakukan kesalahan.

Begitupula dalam kehidupan kita berjamaah. Ketika kita memiliki ilmu dalam berjamaah, tahu hak dan kewajiban tiap tiap anggota dan pengurus, tahu fiqroh thoriqoh dan uslub jamaah, maka kita akan mampu memberikan masukan dan mengawal agar jamaah selalu berada dalam koridor yang benar dalam meniti jalan dakwah ini

Kesalahan besar sebagian jamaah adalah “menyembunyikan” sebagian ilmu keorganisasian kepada anggotanya. Sehingga ketika pemimpin ataupun pengurus melakukan kesalahan dalam memimpin, setiap anggota tidak akan melakukan muhasabah dan bahkan berkhusnudzon Qiyadah sedang melakukan manufer politik demi tubuh jamaah/partai. Sungguh hal tersebut sangat berbahaya bagi keberlangsungan dakwah dalam tubuh jamaah/partai.

Maka sangat penting bagi keberlangsungan partai adalah memahamkan Fiqroh, Thoriqoh dan Uslub yang ditabani oleh partai. Sehingga setiap indifidu yang berada dalam jamaah mengerti dan memahami dengan benar apa yang disebut dengan “manufer partai” dengan “kesahalah partai”. Sehingga bisa melakukan muhasabah apabila memang terjadi hal yang demikian.

Itulah ilmu yang harus dimiliki dalam kepartaian. Agar kita mantap dan sempurna memberikan ketaatan kepada pemimpin partai demi berlangsungnya dakwah.

 

Tsiqoh sebagai landasan ketaatan.

Tidak ada Jamaah/Partai tanpa adanya pemimpin. Karena Allah memang memerintahkan kepada kita untuk selalu berjamaah. Ketika shafar kita harus dipimpin oleh seorang amir syafar dan semua pengikutnya harus taat dan percaya (tsiqoh) kepadanya. Sebagaimana diajarkan oleh Rosulullah SAW dalam hadisnya

وَلاَ يَحِلُّ لِثَلاَثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِأَرْضِ فَلاَةٍ إِلاَّ أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ

Tidak halal bagi tiga orang yang berada di manapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang di antara mereka sebagai amir (pimpinan) (HR Ahmad).

Tsiqoh adalah al-i’timân (percaya), yakni mempercayai apa-apa yang diperintahkan oleh amir (pemimpinan) atas upaya untuk mencapai urusan bersama dalam dakwah, baik dalam suasana (perasaan) lapang maupun sempit, disukai maupun dibenci.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS. An-Nisaa : 65)

Percaya terhadapa keputusan keputusan amir jamaah/partai akan menjadikan langkah dan gerak dalam dakwah menjadi mantap. Kuat terhadap benturan. Kokoh bagai karang dilautan.

 

Belajar dari Kekalahan Perang Uhud

Ketika kaum muslimin Merasakan pahitnya kekalahan pada perang Uhud, mereka pun menyadari apa sebab kekalahan itu, dan dengan apa mereka akan meraih kemenangan. Sebelum perang Uhud, waktu itu sabtu pagi, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewanti-wanti agar pasukan pemanah yang berada di bukit Rumah (nama aslinya bukit ‘Ainain) agar tetap berada ditempatnya, walaupun kaum muslimin telah meraih kemenangan atau ditimpa kekalahan.

Api peperangan menyala, pedang menyambar, anak panah meleset keluar dari busurnya, tombak dihujamkan, banyak nyawa yang melayang, kaum muslimin menyerang, maju dengan penuh kepahlawan sebagai ksatria, kemenanganpun telah menampakkan senyumnya, kaum musyrikin lari meninggalkan medan perang penuh ketakutan.

Saat itu, diatas bukit Rumah pasukan pemanah mulai berselisih, kebanyakan mereka berkata, “Kita telah menang, ayo kita turun untuk bersama saudara-saudara kita“.

Pimpinan pasukan Abdullah bin Jubair radiyallahu’anhu mengingatkan, “Tetaplah berada ditempat kalian, karena Rasulullah memerintahkan agar kita tetap berada diatas bukit, dalam keadaan kita menang ataupun kita kalah“.

Perintah Rasulullah itu adalah dalam keadaan perang, sekarang perang telah selesai dan musuh telah melarikan diri“, mereka beralasan. Kemudian 40 orang dari 50 orang pasukan pemanah turun dari bukit Rummah.

Pimpinan pasukan berkuda kaum musyrikin Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) melihat kebanyakan pasukan pemanah telah meninggalkan tempatnya, maka ia dengan sigap menyerang pasukan kaum Muslimin dari belakang. Sisa pasukan pemanah yang berada diatas bukit yang bertugas untuk melindungi bagian belakang kaum muslimin tidak dapat menghadapi pasukan berkuda kaum musyrikin.

Keadaan pun berbalik, cahaya kemenangan yang mulai nampak kembali bersembunyi, kekalahan akhirnya dirasa, luka jasmani dan pahitnya kekalahan mereka teguk dengan begitu berat.

Namun mereka sadar, akan sebab kekalahan: melanggar satu perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Mereka akan mendapatkan kunci kemenangan dan pertolongan Allah Ta’ala adalah dengan menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.

Penutup

Dakwah membutuhkan keseriusan dari para pengembannya. Tanpa keseriusan tentulah akan menjadi menghambat laju pergerakan dari Jamaah. Keseriusan tersebut sangat terlihat dari ketaatan dan ketsiqohan kita kepada pemimpin. Mengerjakan amanah yang diberikan kepada kita dengan sebaik baiknya dan semaksimal mungkin. Tidak menunda nunda setiap amanah dakwah, serta menyampaikan progresnya untuk dijadikan bahan evaluasi kedepan.

Jangan sampai kita justru menjadi para penghambar laju lesatan dakwah ini dengan abai terhadap taklif taklif dakwah yang diberikan kepada kita. Atau menunaikan sebatas pengugur kuwajiban semata, minim kreatifitas dan inovasi dalam pengemangan uslub dakwah.

لِيَجْزِىَ ٱللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ

Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya ( QS. Ibrahim : 51 )

كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS. Al-Muddatsir : 38 )

Semoga kita semua digolongkan oleh Allah dalam barisan para pejuang yang istiqomah dijalan Nya dan selalu memberikan ketaatan yang benar kepada para pemimpin kita. Selalu memperhatikan landasan ilmu dan tsiqoh dalam mentaati pemimpin. Wallahualam (Sigit Nur Setiyawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY