Foto: Istimewa

Isteri boleh saja bekerja, asalkan rambu-rambu yang membuat wanita terhormat tidak  dilanggar. Karena ini menyangkut kehidupan umum (hayatul ‘amm), maka ada rambu-rambu yang ditaati wanita ketika di luar rumah.

Ketika isteri bekerja, hukumnya mubah, bukan fardhu (wajib). Bahkan Islam menetapkan isteri berhak mendapat ‘fasilitas’ dari suaminya. Tapi kalau memang sikon memaksa bekerja (di luar rumah), perhatikan syarat-syarat ini:

Pertama: urusan yang lebih wajib dan penting sudah selesai belum. Sebagai isteri dan ibu, Islam menetapkan wanita sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan manajer rumah tangga). Sebagai ibu dan wanita maka dia pasti akan kena taklif (beban) hukum mulai dari hamil, melahirkan, menyusui sampai mengasuh. Sementara sebagai manajer rumah tangga, dia akan berposisi sebagai wakil dari suaminya menjalankan roda rumah tangganya.

Nah, kalau kewajiban-kewajiban itu belum ditunaikan, jangan-jangan sekali mencoba bekerja, malahan status bekerja menjadi tidak boleh, karena mengabaikan yang wajib. Maka prioritaskan yang wajib dan utamakan dulu sebagai seorang ibu dan isteri.

Kedua: perhatikan jenis, waktu dan tempat bekerjanya. Sebab ini menyangkut masalah interaksi dengan lawan jenis. Tempat bekerjanya tidak boleh yang mengumbar aurat, tidak boleh yang semata menonjolkan kecantikan dan kemolekan tubuh (bartender, pragawati, model).

Dalam kitab Nidzamul Ijtima fil Islam, karya Syekh Taqiyudin an-Nabhani disebutkan bahwa Rafi’ Ibn Rifa’ah pernah bertutur “Nabi Saw telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan oleh kedua tangannya..

Ketiga: dapat ijin suami atau keluarga tidak. Mekanisme ijinnya seorang wanita kepada suami, menunjukkan wanita amat dimuliakan di dalam Islam. Bagi yang sudah menikah, mentaati suami adalah bentuk ibadah yang Allah dan Rasul-Nya sangat memuji.

Nah, kalau tahapan-tahapan di atas sudah dilalui, maka boleh saja bekerja di luar rumah. Tapi itu berlaku ketika kondisi “memaksa”. Kalau kondisinya normal-normal saja, maka sebaiknya kembalikan ke hukum asal wanita bekerja, yakni boleh-boleh saja. [Luky B. Rouf]

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY