Foto: Istimewa

Orang Indonesia yang dikenal sebagai bangsa ramah sepertinya sudah berevolusi menjadi bangsa berdarah dingin (cold blooded nation). Bila kita lihat pemberitaan di layar kaca, berulangkali kasus pembunuhan disertai mutilasi.

Terakhir kasus pembunuhan disertai mutilasi terjadi pada seorang perempuan hamil di Cikupa, Tangerang. Diketahui pelaku pembunuhan keji itu adalah kekasih korban. Sementara diketahui motifnya adalah pelaku marah karena diminta bertanggung jawab atas kehamilan korban. Mirisnya, korban dibunuh dan dimutilasi dalam keadaan hamil tujuh bulan.

Padahal masih hangat kasus kasus pembunuhan disertai mutilasi yang terjadi di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, pada Maret lalu. Korbannya dua bocah kakak beradik yang tewas mengenaskan di tangan ayah kandung mereka, seorang anggota kepolisian.

Pembunuhan disertai mutilasi di tanah air seperti copycat. Ditiru pelaku-pelaku kejahatan lain. Di tanah air kasus seperti ini sudah berulangkali terjadi dan hanya beberapa saja yang bisa diungkap oleh kepolisian.

Mutilasi biasanya dilakukan pelaku dengan sejumlah alasan; menghilangkan jejak, kebencian yang dalam, gangguan kejiwaan sampai untuk tujuan ritual klenik pelaku. Tapi apapun alasannya pembunuhan disertai mutilasi menunjukkan kesadisan tingkat tinggi. Dari sudut pandang psikologis, sekedar melakukan pembunuhan membutuhkan kadar kebencian yang tinggi dan menghilangkan rasa takut juga belas kasihan. Maka untuk melakukan mutilasi maka dibutuhkan kebencian yang tinggi dan menekan jauh-jauh rasa belas kasihan pada korban. Apalagi bila pelaku dan korban sebenarnya memiliki hubungan dekat.

Maraknya kasus ini memperlihatkan bangsa Indonesia sudah mengalami pergeseran. Dari bangsa yang dikenal ramah, tidak suka bermusuhan, menjadi bangsa yang mudah meluap emosinya dan berdarah dingin. Tawuran pelajar, tawuran antar pendukung sepakbola, tawuran antarwarga di arena pilkada, aksi kekerasan gang motor, sampai kasus pembunuhan dengan mutilasi, sebagian potret kekerasan yang masih marak di tanah air.

Apa yang sebenarnya terjadi? Ini adalah gambaran kemerosotan moral masyarakat. Di balik gemerlap pembangunan apartemen, mall-mall dan hotel mewah, mental masyarakat justru meluncur jatuh. Empati, simpati dan berdamai menjadi hilang dalam pembangunan.

Kemerosotan ini sesungguhnya berawal dari tergesernya nilai-nilai agama dari kehidupan. Sekulerisme yang puluhan tahun telah dijadikan pondasi kehidupan bangsa membuat orang kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan rasa takut kepada Tuhan. Padahal sebagai bangsa yang mayoritas muslim, agama (Islam) semestinya menjadi pondasi kehidupan masyarakat dan negara. Tapi sayang, sekulerisme lebih dipilih menjadi asas kehidupan berbangsa lalu agama hanya menjadi tempelan dan ritual ibadah belaka.

Padahal di negara-negara Barat yang menjadi tanah kelahiran sekulerisme, tindak kekerasan sudah menjadi penyakit sosial yang akut. Kasus-kasus serial killer seperti Jack The Ripper yang melegenda di Inggris, Zodiac Killer di AS, hingga berbagai kasus penembakan massal berulang-ulang terjadi bahkan sebagian diangkat ke layar lebar.

Kita percaya agama adalah pengendali perilaku dan rem emosi yang paling ampuh. Manusia bisa begitu marah kepada orang lain, tapi bila keimanan melekat kuat pada dirinya, maka ia bisa mengendalikan amarahnya. Ia paham bahwa membunuh adalah tindakan dosa besar dan mendatangkan azab dari Allah SWT.

Berulang dan meningkatnya jumlah kasus kekerasan dan pembunuhan sadis, juga diakibatkan tidak ada jaminan perlindungan atas nyawa. Sistem hukum yang berlaku saat ini sama sekali jauh dari menjamin rasa aman dan keselamatan masyarakat. Hukuman yang berlaku masih terasa ringan dan tidak memberikan efek jera.

Karenanya masyarakat butuh sistem sanksi yang benar-benar melindungi dan menjamin keamanan dan kehidupan rakyat. Sistem sanksi seperti itu hanya ada dalam Syariat Islam yang memuat sanksi qishash dan diyat (denda) yang berperan sebagai preventif (zawajir) bagi tindak kejahatan pembunuhan.

Ironinya Islam sebagai agama mayoritas umat di negeri ini, dan memiliki karakter sebagai rahmatan lil ‘alamin, justru terus menerus dicurigai sebagai ancaman bangsa dan negara. Agama Islam ditempatkan sebagaimana agama-agama lain yang bersifat kerohanian semata. Mengurusi peribadatan, dan bukan menjadi asas serta peraturan dalam kehidupan.

Karenanya, kasus mutilasi di Cikupa, Tangerang, nampaknya bukanlah menjadi kasus terakhir di tanah air. Perlahan mental masyarakat sudah berevolusi menuju bangsa berdarah dingin yang akan melahirkan pembunuh-pembunuh berdarah dingin. Ngeri.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY