BOGORAYA - SYARIAH DAN KHILAFAH MEWUJUDKAN ISLAM RAHMAT[AN] LI AL-‘ALAMAN | http://bogoraya.com
BOGORAYA - SYARIAH DAN KHILAFAH MEWUJUDKAN ISLAM RAHMAT[AN] LI AL-‘ALAMAN | http://bogoraya.com

Bogoraya.com, Bogoraya – Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad[1] untuk mengatur interaksi manusia dengan Tuhannya, dirinya dan sesamanya.[2] Karena itu Islam adalah agama yang sempurna dan mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia. Kita pun diperintahkan oleh Allah SWT agar memeluk Islam secara kâffah, tidak setengah-setengah:

[يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ﴾ [سورة البقرة: 208]

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.(Q.s. al-Baqarah [02]: 208)

Sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT, Zat Yang Maha Sempurna, Islam diturunkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Allah SWT menegaskan dalam kitab suci-Nya:

مَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

“Kami tidak mengutus kamu [Muhammad], kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Q.s. al-Anbiya’ [21]: 107)

Ayat ini, menurut Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, rahimahu-Llâh menjelaskan, bahwa tujuan Rasulullah saw. diutus adalah agar risalahnya menjadi rahmat bagi manusia. Rasul saw. menjadi “rahmat bagi manusia” bermakna bahwa risalahnya diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan [jalb al-mashâlih] bagi mereka dan mencegah kemafsadatan [dar’u al-mafâsid] dari mereka.[3]

Memang tampak ayat ini menjelaskan bahwa menjadi “rahmat” [rahmat[an]] adalah tujuan [ghâyah]. Namun, tujuan syariah Islam untuk mewujudkan kemaslahatan [jalb al-mashâlih] bagi manusia dan mencegah kemafsadatan [dar’u al-mafâsid] dari diri mereka, dalam konteks ayat ini, tidak terletak pada satu-persatu hukum, melainkan syariah Islam sebagai satu kesatuan. Karena itu, terwujudnya kemaslahatan [jalb al-mashâlih] dan tercegahnya kemafsadatan [dar’u al-mafâsid], dalam konteks ini, tidak bisa disebut sebagai ‘illat [alasan hukum] pensyariatan hukum syariah.

Dengan kata lain, terwujudnya kemaslahatan [jalb al-mashâlih] dan tercegahnya kemafsadatan [dar’u al-mafâsid] merupakan hasil dari penerapan syariah Islam secara kâffah, bukan ‘illat [alasan hukum] pensyariatan hukum syariah. Hasil [natîjah] jelas berbeda dengan alasan [sabab] pensyariatan hukum. Sebab, hasil merupakan konsekuensi dari penerapan syariah. Adapun alasan pensyariatan hukum ada sebelum hukum tersebut disyariatkan dan menyertainya setelah hukum itu ada, bukan hasil yang menjadi konsekuensi dari penerapannya.[4]

Karena itu kerahmatan Islam bagi alam semesta [Islâm rahmat[an] li al-‘âlamîn] merupakan konsekuensi logis dari penerapan Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Kerahmatan Islam tidak akan terwujud jika Islam hanya diambil sebagai simbol, slogan, asesoris dan pelengkap “penderita” yang lain. Kerahmatan Islam tidak akan ada jika Islam hanya diambil ajaran spiritual dan ritualnya saja, sementara ajaran politiknya ditinggalkan. Pada saat yang sama, paham politiknya diambil dari Kapitalisme maupun Sosialisme, yang nota bene bertentangan dengan Islam.

Inilah Islâm rahmat[an] li al-‘âlamîn yang sesungguhnya. Inilah Islam sebagaimana yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi-Nya, Muhammad saw. Inilah Islam yang benar-benar pernah diterapkan selama 14 abad di seluruh dunia; yang pernah memimpin umat manusia, dari Barat hingga Timur, Utara hingga Selatan. Di bawah naungannya, dunia pun aman, damai dan sentosa, dipenuhi keadilan. Muslim, Kristen, Yahudi dan penganut agama lain pun bisa hidup berdampingan dengan aman dan damai selama berabad-abad lamanya.

Begitulah Islâm rahmat[an] li al-‘âlamîn, yang telah terbukti membawa kerahmatan bagi seluruh alam. Inilah Islam yang dirindukan oleh umat manusia untuk kembali memimpin dunia; membebaskan umat manusia dari perbudakan dan penjajahan oleh sesama manusia; serta menebarkan kebaikan, keadilan dan kemakmuran di seluruh penjuru dunia. Itulah Islam yang hidup sebagai peradaban di tengah umat manusia, diterapkan, dipertahankan dan diemban oleh umat manusia di bawah naungan Khilafah Rasyidah.

[1]     Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’: ‘Arabi-Injelisi-Inransi, Dar an-Nafa’is, Beirut, cet. I, 1426 H/1996 M, hal. 48.

[2]     Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzam al-Islam, Dar al-Ummah, Beirut, edisi Muktamadah, cet. VI, 1422 H/2001 M, hal. 70.

[3]     Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah al-Juz’u at-Tsalits, Dar al-Ummah, Beirut, edisi Muktamadah, cet. III, 1426 H/2005 M, hal. 381.

[4]     Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah al-Juz’u at-Tsalits, Dar al-Ummah, Beirut, edisi Muktamadah, cet. III, 1426 H/2005 M, hal. 381.


NO COMMENTS

LEAVE A REPLY