BOGORAYA - PIDATO POLITIK MTU: MENEGAKKAN DAULAH KHILAFAH, MEWUJUDKAN RAHMAH | http://bogoraya.com
BOGORAYA - PIDATO POLITIK MTU: MENEGAKKAN DAULAH KHILAFAH, MEWUJUDKAN RAHMAH | http://bogoraya.com

Bogoraya.com, Bogoraya – Telah maklum, Islam adalah dîn al-rahmah. Agama yang ketika diterapkan secara kaffah akan mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Dan telah maklum pula, syariah secara kaffah itu hanya bisa ditegakkan dengan Khilafah Islamiyyah. Karena itu, Khilafah Islamiyyah sebagai institusi pelaksana syariah adalah dawlah al-rahmah. Daulah yang mewujudkan dan menebarkan rahmat dalam kehidupan.

Siapa pun yang membuka catatan sejarah tentang Khilafah Islamiyyah, niscaya akan menemukan realitas ini. Kehidupan penuh rahmat benar-benar terwujud dalam kehidupan. Bukan hanya dirasakan oleh kaum Muslimin, orang-orang kafir pun turut merasakannya. Maka, tidak heran jika manusia dari berbagai bangsa berbondong-bondong masuk Islam dengan sukarela.

Bukan seperti negara sekular yang menolak hukum syariah. Kalaupun ada yang boleh diamalkan, hanya hukum yang menyangkut kehidupan privat. Sikap ini hanya akan mengantarkan kepada kesengsaraan dan penderitaan di dunia dan akhirat.

Bukan hanya dawlah al-rahmah, Daulah Khilafah Islamiyyah juga dawlah al-‘ad-l. Daulah yang mewujudkan keadilan dalam kehidupan. Sebab, hukum yang ditegakkan Khilafah Islamiyyah adalah hukum yang berasal dari Dzat Yang Mahaadil, Allah Swt. Adakah hukum yang lebih baik dan lebih adil daripada hukum Pemilik alam raya beserta isinya?

Keadilan itu juga terwujud karena Khilafah Islamiyyah memperlakukan rakyatnya secara adil di depan hukum dan peradilan, tanpa memandang strata sosial, suku, bangsa, maupun agamanya (lihat QS al-Nisa [4]: 59).

Bukan seperti negara demokrasi yang menyerahkan pembuatan undang-undang kepada segelintir orang. Mungkinkah tercipta keadilan jika undang-undangnya dibuat segelintir orang yang tak terbebas dari ambisi dan tendensi pribadi, apalagi suka korupsi? Mungkinkah keadilan dapat ditegakkan jika hukum laksana pisau yang hanya tajam ke bawah, namun tumpul ke atas?

Daulah Khilafah adalah dawlah al-ri’âyah. Daulah yang memelihara urusan rakyatnya, menunaikan kemaslahatan mereka, menjamin kebutuhan mereka, dan menjaga mereka dari segala marabahaya. Daulah yang menjalankan sabda Rasulullah saw:

وَالإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Dan imam atau pemimpin adalah pemelihara urusan [rakyat], dan dia ditanya tentang orang-orang yang diurusnya (HR al-Bukhari).

Daulah Khilafah bukan daulah al-jibâyah (negara pemalak), seperti negara Kapitalis yang gemar memalak rakyatnya dengan pajak mencekik dan aneka pungutan yang memberatkan. Bukan pula negara yang melepaskan tanggung jawabnya dalam urusan pendidikan dan kesehatan, mengharamkan subsidi sekalipun rakyatnya sudah sengsara dan makin menderita.

Daulah Khilafah adalah dawlah al-hidâyah, negara yang menebarkan petunjuk kepada manusia. Mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya kebenaran Islam. Sebab, politik luar negeri Daulah Khilafah adalah nasyr al-Islâm ilâ al-‘âlam (menyebarkan Islam ke seluruh dunia). Sehingga, dengan Daulah Khilafah, Islam dengan cepat tersebar ke seluruh antero dunia, wilayah kekuasaanya terbentang luas, bahkan menjadi negara adidaya berabad-abad lamanya.

Ini jelas berbeda dengan Amerika dan negara-negara kafir penjajah lainnya yang melakukan ekspansi ke negara lain untuk menjarah kekayaannya dan memperbudak penduduknya.

Namun sungguh disayangkan, Daulah Khilafah yang memiliki berbagai keistimewaan itu sekarang tidak ada. Setelah dihapuskan oleh Musthafa Kemal pada 28 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924, umat Islam hidup tanpa khilafah. Sejak itu, sebagian besar hukum syariah tidak dijalankan. Akibatnya, Islam sebagai Rahmatan li al-‘âlamîn tidak terwujud dalam kehidupan.

Maka, siapa pun yang menginginkan Islam kembali mejadi rahmatan li al-‘âlamîn, tidak ada pilihan lain kecuali mengembalikan Daulah Khilafah yang menerapkan syariah secara kaffah. Inilah jalan satu-satunya yang wajib kita tempuh. Bahkan bukan sekadar wajib atau fardhu, menegakkan khilafah adalah tâj al-furûdh (mahkota kewajiban), yang dengannya berbagai kewajiban lainnya dapat ditegakkan.

Jalan yang mampu membebaskan kita dari dominasi, hegemoni, intervensi, dan segala bentuk penjajahan Amerika Serikat dan negara-negara kafir penjajah lainnya. Bahkan, inilah jalan yang dapat menghapuskan penjajahan dari seluruh dunia.

Jalan yang membuat kita dapat meraih predikat khairu ummah, sebaik-baik umat. Umat terbaik bagi manusia karena melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar, serta benar-benar beriman kepada Allah Swt.

Jalan yang dapat membuka limpahan berkah dari langit dan bumi. Itulah yang dijanjikan Allah Swt kepada penduduk negeri yang mau beriman dan bertakwa kepada-Nya. Yakni, menjadikan aqidah Islam sebagai dasar kehidupan dan syariah Islam sebagai hukum yang diterapkan.

Jalan yang dapat menghasilkan kebaikan di dunia dan akhirat sebagaimana yang kita minta dalam doa yang senantiasa kita panjatkan, fi al-dun-yâ hasanah, wa fî al-âkhirah hasanah.

Jalan yang menjauhkan kita dari azab, neraka, dan murka Allah Swt; serta mengantarkan kita memperoleh nikmat, surga, dan ridha Allah Swt. Adakah yang lebih menarik dari semua itu?

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY