Foto: Istimewa

Allah telah menetapkan menikah sebagai jalan yang bisa ditempuh untuk mengatasi gejolak dan permasalahan, utamanya problematika pergaulan bebas dewasa ini yang kian marak. Tentu bukan nikah dalam keadaan hamil, karena hal tersebut dilarang oleh Islam. Tapi pembahasan disini adalah menikah di usia muda, yang sebenarnya mengandung banyak kemaslahatan yang bisa diraih.

Setidaknya ada 3 hal yang bisa kita raih, jika seandainya muda-mudi kita lebih memilih menikah muda daripada pacaran yang sudah pasti mengarah ke free sex.

Pertama, menikah muda bisa menjaga sifat iffah di kala naluri bergejolak.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu telah mampu menikah maka menikahlah, karena sesungguhnya menikah itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang nggak mampu maka hendaklah atasnya berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah perisai.” (HR. Bukhari).

Gaya pacaran yang dipraktekan anak-anak muda sebenarnya lebih mengarah kepada having fun, atau bahkan having sex. Kalau sudah seperti itu, maka jatuhnya adalah mendekati zina atau bahkan zina itu sendiri. Solusi Islam sejatinya adalah dengan adanya menikah bagi para pemuda yang telah mampu, untuk meredakan gejolak sex dengan pasangan yang sah, pasangan yang telah dinikahinya. Demikian itu tentu harusnya lebih diambil oleh muda-mudi kita, agar bisa bernilai ibadah.

Kedua, menikah muda bisa memberi kesempatan mendapatkan keturunan lebih banyak.

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ

“Nikahilah wanita yang penyayang dan berperanakan, karena sesungguhnya aku akan bersaing melalui kalian dengan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Daud).

Dengan menikah di usia muda, maka tentu akan punya kesempatan untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih banyak dibandingkan jika menikah di usia yang tidak lagi muda. Tentu yang dimaksud Rasullullah Saw dalam hadits di atas, bukan hanya faktor ‘banyaknya anak’ saja, tapi juga harus memikirkan kualitas gizi, pendidikan dan masa depannya. Sebab anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kelak.

Ketiga, dengan menikah muda, akan lebih banyak kesempatan membesarkan anak.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (TQS An Nisaa’: 9).

Jadi, dengan menikah muda setelah ada kesempatan memiliki jumlah anak yang banyak, juga kesempatan untuk membesarkan anak lebih luas. Karena dengan usia yang masih muda, maka bisa dioptimalkan tenaga, pikirannya untuk mencari ma’isah (penghasilan) sesuai dengan rencana kehidupan mereka. Berbeda, jika menikah tidak di usia muda, kita bisa melihat bahwa ketika anak-anaknya butuh biaya sekolah, usia orang tuanya sudah tidak lagi muda, misalnya sudah di usia kepala 5. Tentu itu akan memberatkan si orang tua dan bisa jadi menghambat masa depan anaknya.

Wallahu’alam bi showab. [Luky B. Rouf]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY