Foto: Istimewa

Ancaman kejahatan narkoba di tanah air mulai dirasakan pemerintah membuat gerah. Karena narkoba bukan saja mengincar anak-anak muda dan pelajar atau selebritis, tapi akademisi, pejabat negara dan perwira militer.

Di Makassar, sedikitnya sudah enam orang oknum prajurit TNI di jajaran Kodam VII Wirabuana yang ditangkap dalam kasus narkotika. Paling mengejutkan adalah penangkapan Komandan Distrik Militer (Dandim) 1408/BS Makassar Kolonel Inf Jeffri Oktavian Rotti saat sedang pesta sabu di salah satu hotel di Makassar, Selasa (5/4/2016) malam.

Rabu (30/3/2016) lalu, Panglima Kodam (Pangdam) VII/Wirabuana Mayjen TNI Agus Surya Bakti sebelumnya mengatakan, sebanyak lima prajurit TNI terjaring narkoba dalam operasi berantas narkoba selama sepekan terakhir.

Sebelumnya, Bupati Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Ahmad Wazir Nofiadi (AWN) digelandang Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama 4 temannya saat tengah pesta narkoba di kediamannya, Palembang, Sumsel. Saat tertangkap dan digelandang BNN sang bupati termuda ini masih dalam keadaan fly. Ada dugaan sang bupati juga turut menjadi pengedar narkoba.

Bila dirunut ke belakang, banyak jajaran aparat pemerintah, akademisi hingga aparat militer terjerat narkoba. Pada tahun lalu dua jaksa Nusa Tenggara Barat positif menggunakan narkoba setelah gagal melewati tes urine.

Pada tahun 2014 Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Musakkir SH, MH ditangkap di sebuah hotel tengah berpesta narkoba bersama lima orang di antaranya gadis muda.

Temuan ini jelas memprihatinkan dan mengerikan. Program perang melawan narkoba yang pernah dikampanyekan pemerintah bukan lagi seperti jalan di tempat, tapi mengalami kemunduran karena justru makin banyak PNS, aparat penegak hukum dan militer yang terjerat narkoba.

Menarik mengamati mengapa jaringan peredaran narkoba justru semakin meluas baik horizontal maupun vertikal. Dari kalangan grass root sampai pejabat dan perwira militer ikut-ikutan jadi ‘pesakitan’. Padahal genderang perang telah ditabuh, jeratan hukum hingga level hukuman mati sudah diberlakukan.

Pertama, faktor penegakkan hukum yang belum ‘greget’. Hingga hari ini ada sekitar 50-an terpidana mati kasus narkoba menunggu eksekusi, tapi mereka belum juga dieksekusi. Apalagi ada sebagian hakim yang menentang adanya hukuman mati. Hal ini membuat pelaku kejahatan narkoba tak kunjung jera.

Yang ada banyak narapidana narkoba justru masih bisa menjalankan transaksi dari balik jeruji, bahkan dari LP Nusakambangan yang terbilang ketat sekalipun. Artinya, masih ada terus celah untuk melakukan kejahatan narkoba akibat kongkalikong dengan aparat.

Kedua, yang jarang dicermati dan dibahas adalah realita Indonesia sudah menjadi pasar narkoba yang menggiurkan. Teori perdagangan adalah dimana ada konsumen disitu barang diperdagangkan. Ini bukan bicara soal jumlah penduduk Indonesia yang berlimpah, tapi soal gaya hidup orang Indonesia yang semakin hedonis dan kering spiritual.

Banyak orang Indonesia yang mencandu hedonisme, kepuasan jasadiyah. Masyarakat grass root memadati pentas dangdut, warung remang-remang, minuman keras dan prostitusi kelas bawah. Sementara kelas menengah ke atas tumpah ke diskotif, kafe, pub, dan aneka tempat dugem lainnya. Pertumbuhan ekonomi diiringi dengan semakin tingginya syahwat konsumtif orang Indonesia. Ponsel yang mahal sekalipun selalu laku di Indonesia, belum lagi kendaraan bermotor dan mobil yang mewah yang masuk kategori limited edition pun ada di Indonesia.

Salah satu cabang dari hedonisme adalah mengkonsumsi narkoba. Ketika orang sudah bosan dengan rutinitas, bosan dengan hiburan yang ‘biasa-biasa’ saja, narkoba adalah pilihan menarik. Ia menantang karena beresiko sekaligus membuat orang bisa fly.

Seorang bupati yang akalnya sehat, dan dandim yang waras pastinya tidak akan mengkonsumsi narkoba. Tapi hedonisme yang sudah merasuk kepada individu dan masyarakat membuat dorongan begitu kuat bagi mereka yang rapuh jiwanya, karena tak berpegang pada agama.

Karenanya, berbicara pemberantasan narkoba tidak cukup hanya soal hukum, tapi revolusi pemikiran dan perasaan rakyat Indonesia. Kapitalisme dan liberalisme yang mencengkram negeri ini akan melahirkan berbagai penyakit sosial, termasuk narkoba, prostitusi dan korupsi. Dalam kapitalisme-liberalisme, orang akan dibuat mencandu hedonisme, mencari kepuasan ragawi. Salah satunya dibuat menjadi pecandu narkoba. Maka sudah saatnya merombak peradaban negeri ini dari akar hingga ke daunnya, tidak cukup hanya slogan atau penegakkan hukum. [Iwan Januar]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY