Foto: Istimewa

Analogi ini cukup simple dan mudah kita temui sehari-hari dalam kehidupan kita. Pengumpamaan kehidupan persahabatan suami-istri adalah layaknya sepasang sepatu. Kehidupan suami istri adalah kehidupan layaknya persahabatan, Rasulullah Saw juga sudah mengingatkan kepada kita: “Sesungguhnya wanita adalah saudaranya/sahabatnya pria” (HR. Abu Daud).

Karena kehidupan rumah tangga layaknya persahabatan maka, kepemimpinan suami bagi isteri dan anak-anaknya adalah untuk ri’ayah (pelayanan). Sungguh sangatlah fatal jika seorang suami memposisikan istri sebagai bawahan, layaknya pegawai di kantor. Pengumpamaan kehidupan suami—istri layaknya sepasang sepatu, jika dicermati mengandung makna:

Pertama, Tak pernah SAMA tapi selalu SERASI. Adanya sepatu yang sepasang selalu tak sama, ada kanan dan ada kiri, akan tetapi keduanya pasti serasi dari segi ukurannya. Demikianlah, Allah telah menciptakan laki-laki dan wanita yang akhirnya menyatu dalam pernikahan. Keduanya tak sama baik dari segi jenisnya, maupun karakter-karakternya. Namun demikian, ketidaksamaan bukan berarti tidak bisa serasi. Justru jika ada kelebihan dari satu pihak maka akan menutupi kekurangan di pihak lain.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal” (QS. Al Hujurat: 13).

Kedua, Tak bisa ganti posisi tapi saling melengkapi. Sepasang sepatu selalu tak bisa ganti posisi, jika salah satu dipaksakan untuk mengganti posisi, akan terjadi kepincangan. Dalam alam kehidupan sekuler seperti sekarang ini, banyak para wanita (isteri) yang termakan oleh propaganda feminisme sehingga ingin menggantikan posisi suami, ketika merasa dirinya lebih banyak berkontribusi dalam keuangan keluarga. Gugatan perceraian, kalau kita baca berita lebih banyak dilayangkan oleh para istri, sekali lagi karena merasa ada superioritas peran dari istri dalam rumah tangga.

“…mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka..” (QS. Al-Baqarah: 187). Allah mengibaratkan suami istri sebagai pakaian tentu memiliki hikmah untuk kita fikirkan. Maksud itu diantaranya adalah :

  1. Pakaian ialah sebagai penutup, yaitu penutup aib suami dan isteri. Maka dalam sebuah keluarga, masing-masing anggota dilarang membuka aibnya kepada siapapun. Ada pepatah mengatakan “mulut itu pendek, tetapi dapat memanjang hingga ribuan kilometer“.
  2. Pakaian ialah perhiasan, sedangkan perhiasan yang paling indah bagi seorang abdi Allah adalah isteri yang shalehah. jika dipandang akan menyenangkan dan jika ditinggalkan akan menentramkan.
  3. Pakaian adalah perisai penyakit. Penyakit yang dimaksud ialah penyakit-penyakit yang sering hinggap pada orang-orang yang belum menikah, misalnya zina.

Ketiga, Selalu sederajat tak ada yang lebih tinggi. Sepatu dibuat untuk selalu dengan ukuran yang sama, tinggi yang sama, tidak ada yang lebih besar sebelah atau lebih tinggi sebelah. Demikianlah, Allah juga memberikan potensi kehidupan yang sama antara laki-laki dengan wanita, tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain, kecuali amal-amal shalihnya. “Siapa saja yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki ataupun perempuan , sementara ia seorang mukmin, sesungguhnya kami akan memberikan kepada mereka kehidupan yang baik, dan kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada amal yang telah mereka kerjakan, (QS an-Nahl: 21).

Wallahu’alam bi showab. [Luky B. Rouf]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY