Foto: Istimewa

Saat dulu belajar di bangku sekolah, guru mata pelajaran IPA Biologi pernah bertanya tentang apa saja ciri-ciri dari makhluk hidup. Salah satu jawaban saya waktu itu, yang saya pelajari dari pelajaran beliau, adalah tumbuh (bertumbuh) selain bergerak dan berkembang biak. Karena yang namanya hidup itu pasti tumbuh. Kalau berhenti tumbuh itu pertanda makhluk itu mati atau segera mati.

Lalu mungkin tidak ya ada makhluk yang hidup tapi sebenarnya dia mati? Atau ada tidak ya manusia yang hidup tapi sejatinya dia mati?

Dalam kaca maca iman, seseorang tidak hanya dilihat dari kasat mata saja, yang nampak atau terlihat saja. Islam mengajarkan kepada kita betapa pandangan seorang mukmin itu bisa berkebalikan dengan pandangan mata manusia kebanyakan. Bukan sekedar beda, tapi memang secara pondasi benar-benar bertolak belakang dengan paham umum.

Islam menilai ada orang yang sudah mati, tapi Allah mengabarkan justru dia itu hidup. Pun sebaliknya Islam telah memberi kabar bahwa banyak manusia yang hidup, tapi Allah menilainya mati. Ya, yang kita lihat mati justru hidup; yang kita cermati hidup sebaliknya justru ia telah mati. Benar-benar kontra.

Kenapa bisa demikian? Mari kita simak beberapa firman Allah Swt berikut ini:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)
“Tidak sama orang yang hidup dengan orang yang sudah mati. Sesungguhnya Allah SWT mendengar orang yang dikehendaki-Nya, sedangkan kamu tidak bisa menjadikan orang-orang yang di dalam kubur bisa mendengar.” (QS Faathiir: 22)
Di dalam ayat yang pertama, Allah menggambarkan bahwa para syuhada (yang sudah mati) itu sebenarnya hidup, tidak mati. Bahkan kita tidak boleh menyebutnya telah mati. Mereka hidup, demikian Allah gambarkan. Sedangkan sebaliknya di ayat yang kedua Allah mengabarkan bahwa orang-orang kafir itu pada hakikatnya telah mati meski masih hidup.
Qatadah menyampaikan dalam tafsirnya berkaitan dengan surat Faathiir ayat 22: “Ini adalah pemisalan yang Allah sampaikan antara mukmin dengan kafir, antara yang buta dengan melihat, antara kegelapan dengan cahaya.”

Oleh karenanya kita jangan terbuai atas apa yang terlihat oleh pandangan mata. Karena bisa jadi hakikatnya sangat berbeda dengan yang sebenarnya.

Seseorang yang telah mati dikatakan hidup karena anugerah yang telah Allah berikan atas amal sholih dan perjuangan mereka. Mereka ditempatkan dalam kemuliaan. Sebaliknya orang hidup disebut mati juga karena atas apa yang mereka lakukan. Hidup mereka jauh dari iman dan menolak kebenaran. Tidak hanya hatinya yang mati tapi hakikatnya hidup mereka telah mati.

Jadilah pribadi yang hidupnya benar-benar hidup dan matinya senantiasa hidup. Hal pembedanya tidak lain karena iman dan amal sholih yang dikerjakan. Saat hidup tanpa iman sebenarnya hidup kita itu bukan kehidupam tapi kematian. Pun jika hidup dengan iman tapi tanpa amal sholih pun juga demikian. Kematian dari kesempatan untuk beramal.

Mari kita berkaca pada keseharian. Sudahkah hidup kita benar-benar hidup, hidup yang ditemani iman yang lurus dan amal yang sholih? Jika belum, yuk berubah. Mumpung Allah masih beri kita kesempatan. Jika sudah, mari tingkatkan agar lebih baik lagi. Jangan sampai hidup kita yang kita lalui ini sebenarnya telah mati. Tapi jadilah pribadi yang meskipun nanti kita sudah mati tapi tetap hidup di hadapan Allah Swt. Aamiin. Wallahu’alam.

[Asep Supriatna, Life Performance Trainer]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY