BOGORAYA - Catatan Kecil Untuk Pengemban Dakwah Tentang Keikhlasan | http://bogoraya.com
BOGORAYA - Catatan Kecil Untuk Pengemban Dakwah Tentang Keikhlasan | http://bogoraya.com

Bogoraya.com, Bogor – Dakwah memang membutuhkan keseriusan dan pengorbanan baik harta benda bahkan kalau perlu nyawa kita. Karena semuanya itu sebenarnya untuk membeli surga Allah yang telah di janjikan kepada kaum muslimin yang mau membelinya.

Selain modal keseriusan dan pengorbanan, juga harus dilengkapi juga dengan keikhlasan yang sempurna. Karena dengan keiklasan yang sempurna itulah kita bisa menjadi Pemimpin yang baik dan menjadi orang yang dipimpin dengan baik.

Tidakkah kita mencontoh bagaimana keikhlasan Kholid bin Walid. Kholid adalah sosok sahabat yang luar biasa. Pengorbanannya dalam medan jihad fi sabilillah tercatat dengan tinta emas. Mulai dari Fathu Makkah, Perang Hunain, Perang Yamamah, Penaklukan Persia dan penaklukan Syam.

Ketika Kholid bin Walid berhasil membereskan Musailamah dalam perang Yamamah, Kholid segera diutus oleh Kholifah Abu Bakar untuk melakukan penakhlukan Irak dan Persia. Tugas tersebut berhasil dilaksanakan dengan baik oleh Kholid. Disaat yang bersamaan meletuslah perang melawan pasukan Romawi. Karena sangat gentingnya situasi, maka Kholifah Abu Bakar menugaskan Kholid bergabung dengan pasukan Abu Ubaidah ibn Jarroh dan mengambil kepemimpinan pasukannya.

Dalam waktu yang tidak begitu lama pertahanan pasukan Romawi dalam perang Yarmuk luluh lantah. Beberapa Jenderal Romawi berhasil dibunuh. Dan Kholid sebagai pahlawan pembebasan pintu Syam.

Dalam situasi yang seperti itu datanglah utusan dari Madinah yang mengabarkan bahwa Abu Bakar meninggal dan estafet kepemimpinan ummat dipegang oleh Ummar bin Khattab. Dalam surat itu pula Umar bin Khothtob memecat Kholid bin Walid dari puncak pimpinan pasukan. Kepemimpinan pasukan dikembalikan kepada Abu Ubaidah bin Jarroh.

Bayangkan kalau kita menjadi Kholid Bin Walid? Apa yang ada dalam hati kita? Dendamkah dengan Umar? Marahkah dengan Umar? Proteskah kepada Umar mengapa dilengserkan saat dirinya telah berhasil memenangkan peperangan besar melawan Romawi?

Ternyata tidak, yang tertancap dalam hati Sang Pedang Allah ini hanyalah keikhlasan yang sempurna. Sehingga dengan keikhlasannya Khalid mampu memimpin pasukan dengan luar biasa dan ketika dipecat oleh Umar menjadi salah satu Komandan Pasukan saja, Kholid tetaplah orang yang luar biasa.

Tidak hanya sampai disitu saja ketabahan dan keiklasan Kholid bin Walid. Ketika sampai kabar kepada Umar bahwa Kholid memberikan sejumlah harta kepada seorang penyair karena penyair itu memuji dirinya. Maka Khilid dipanggil di Madinah untuk disidang oleh Amirul Mukiminin. Kholid dipermalukan oleh Umar bin Khattab dihadapan para Sahabat Rosulullah. Tetapi sekali lagi yang ada didalam hati Kholid adalah keikhlasan yang sempurna. Sehingga segala ujian terasa ringan, dan segala cobaan dan iming iming dunia juga terasa ringan untuk disingkirkannya.

Ketika Kholid meninggal dunia pun, dirinya tidak meninggalkan sepeser harta sekalipun. Satu satunya hartanya adalah peralatan tempurnya. Sebelum meninggal Kholid berwasiat untuk mewakafkan dijalan jihad Kuda perang, pedang dan baju besinya untuk keperluan jihad fi sabilillah. Melihat kezuhudan Kholid bin Walid, Amirul Mukminin merasa menyesal telah mempermalukan orang yang mulia, orang yang punya jasa besar dalam penakhlukan Syam. Dan orang yang tidak terkalahkan yang oleh Rosulullah dijuluki Pedang Allah yang Terhunus.

Itulah kehebatan Kholid. Keikhlasannya mampu menjadikan dirinya seorang Panglima Militer tertinggi. Menjadi seorang pemimpin, bahkan menjadi anak buah sekalipun. Keikhlasannya menerima amanah membuat dirinya selalu berproses dalam perbaikan diri demi meraih keridhoan Allah semata.

Ambilah pelajaran wahai para pengemban dakwah!

Disaat pemimpin kita, guru kita mengamanahkan sesuatu kepada kita, disitulah keikhlasan kita sedang diuji. Apakah kita mau mengambilnya ataukah mencari cari alasan dan pembenaran untuk dijadikan perisai pembenaran atas sikap “melarikan diri” kita.

Disaat amanah kita diambil oleh orang yang memang memiliki kewenangan, disitulah keikhlasan kita juga diuji oleh Allah. Bisakah kita menjadi orang biasa yang siap digerakkan oleh orang lain. Bahkan terkadang orang tersebut junior kita atau orang yang dahulu pernah kita bina. Bisakah dengan keikhlasan kita menerimanya dengan lapang dada. Selapang Kholid bin Walid menerima dengan lapang pemecatannya disaat kemenangan Perang Yarmuk.

Kedepan dakwah ini membutuhkan keiklasan dari para pengembannya yang sempurna. Tidak ada lagi waktu untuk berdiam diri dan menolak amanah amanah yang diberikan. Karena berdiam diri itu sama saja kita sedang menghambat melesatnya laju perubahan. Jadilah diri kita martir-martir perubahan itu. Jadikan diri kita sebagai katalisator perubahan itu. Kalau bukan kita, lantas mau berharap kepada siapa lagi. Wallahualam (Sigit Nur Setiyawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY