Foto: Istimewa

Mungkin kita pernah mendengar kata-kata bijak “memelihara itu lebih sulit, daripada membangun”. Tidak salah jika kata-kata itu berlaku juga pada mahligai rumah tangga. Ketika ijab-qabul terucap, mungkin calon pasutri merasa bahwa bisa mempertahankan rumah tangga yang akan dibangun itu. Atau saat masih lajang, banyak muda-mudi membayangkan untuk membangun sebuah rumah tangga yang penuh diliputi kebahagiaan hingga akhir hayatnya.

Namun perceraian, bisa menjumpai siapa saja. Entah, mereka yang baru dalam hitungan hari menikah atau mereka yang usia perkawinannya telah memasuki usia emas atau perak. Dan perceraian terjadi tidak hanya saat ini saja, mungkin salah satu diantara kita pernah menjadi ‘korban’ dari perceraian orang tua kita dulu.

Semakin sulitnya mempertahankan mahligai rumah tangga, dipicu oleh beberapa sebab. Kompas mencatat penyebab perceraian tahun 2004 diantaranya, karena krisis akhlak sebanyak 176; Cemburu 227 kasus; Kawin paksa 63 kasus; Ekonomi 334; Tidak ada tanggung jawab 275 kasus; Penganiayaan 72 kasus; Gangguan pihak ketiga 283 kasus; Tidak ada keharmonisan ada 344 kasus. (kompas.com). Tiga angka tertinggi pemicu perceraian, secara berurutan, tidak adanya keharmonisan, kemudian alasan ekonomi dan terakhir alasan adanya gangguan pihak ketiga.

Seorang isteri menuntut kepada suaminya, dia ingin tampil trendi, dengan dibungkus aksesoris perhiasan yang menempel di tubuhnya. Sedangkan suami tidak bisa memenuhi hajat isterinya, jika kasus ini lama tak dapat jawaban, sementara nilai-nilai keislaman kering kerontang dalam rumah tangganya, maka jika ada pilihan pria lain yang lebih bisa memberi si isteri tadi untuk bermewahan, atau pihak keluarga si isteri selalu mendorong untuk memilih pria lain, jelas akhirnya perceraianlah ujungnya.

Ketika rumah tangga menjadi panas karena kemarahan dan kebencian, maka gugatan cerai selalu jadi jalan pintas. Padahal Islam tidak menjadikan kemarahan dan kebencian sebagai sebab untuk melakukan talak. Sebaliknya Islam memerintahkan kepada suami-isteri untuk bergaul dengan cara yang ma’ruf, serta mendorong sabar dalam kebencian, firman Allah: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS. An-Nisa 19)

Islam memerintahkan menempuh segala cara yang –baik yang lembut maupun tegas—seperti dalam masalah nusyuss (QS. 4: 19). Perceraian tidak selalu jadi pilihan terburuk dari sepasang suami isteri ketika rumah tangga mereka mengalami kemelut. Suami isteri bisa berusaha sungguh-sungguh mencari penyelesaian damai yang dapat menghindari adanya talak. Jika tidak bisa, maka diperintahkan kepada kedua belah pihak untuk menghadirkan wakil dari keluarganya sebagai penengah dalam upaya mengatasi masalah tersebut untuk kedua kalinya (QS. 4:35).

Secara sistemik dengan melihat semakin meningginya kasus perceraian tiap tahun, menjadi kita bertambah yakin bahwa sistem kehidupan yang selama ini melingkupi kaum muslimin, tidak pernah bisa membuat sepasang suami-isteri hidup mempertahankan rumah tangganya. Sistem yang sekularistik-kapitalistik patut ditunjuk hidungnya sebagai pemicu utama, makin meningkatnya kasus perceraian. Bagaimana tidak? Jika kehidupan yang serba diukur dengan materi dan mengukur kebahagiaan dengan melimpahnya harta, maka apalah jadinya sebuah rumah tangga jika tidak bisa memenuhi itu semua, kecuali perceraian jawabannya.

Sistem ini jugalah, yang menjadi pemicu utama lahirnya manusia yang berkarakter pembohong, penipu, tidak pernah merasa puas, sehingga perselingkuhan, kumpul kebo hingga melakukan zina dengan para pelacur, menjadi gambaran buruk sebuah perkawinan. Jika fenomena itu dijumpai oleh sebuah rumah tangga, maka perceraian selalu jadi pilihan.

Walhasil, sebisa mungkin hindari perceraian, salah satunya jangan mengundang hal-hal yang mendatangkan perceraian, misalnya rasa cemburu berlebihan, budaya hedonistik. Serta sebaliknya selalu menghadirkan penawar agar terhindar dari perceraian, salah satunya semakin mempertebal keimanan dan tsaqofah Islam. Sebab dengan kekuatan iman serta semakin dalamnya tsaqofah (pengetahuan) Islam yang kita miliki, setidaknya kita jadi melek syariat (baca: mengerti hukum) dari melakukan kemaksiatan mulai dari perselingkuhan sampai kepada zina. Sehingga kita bukan saja ngeri untuk melakukan pelanggaran itu. Tapi kita pasti juga akan sebisa mungkin menghindarinya, meskipun lingkungan atau bahkan aturan negara tidak bisa menghadirkan kultur yang mempersubur keimanan kita. [Luky B. Rouf]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY