Foto: Istimewa

Bila kita menelusuri sejumlah nash-nash hadits, niscaya hampir semua siklus kehidupan manusia telah dideskripsikan oleh Rasulullah SAW.. Tentu semua bukan ramalan layaknya seorang paranormal atau dukun, tetapi dengan izin dan kekuasaan Allah SWT. yang membimbing Rasulullah SAW. melalui wahyu-Nya.

Di antara gambaran kehidupan umat manusia yang telah dijabarkan oleh Beliau adalah akan terjadinya fenomena era penuh kebohongan, khususnya kedustaan pada arena politik dan pemerintahan. Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah meriwayatkan hadits dari Abu Hurayrah ra. bahwa Nabi SAW. pernah bersabda:

« سَيَأْتِى عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِى أَمْرِ الْعَامَّةِ «

“Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang “Ruwaibidhah” berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.”

Imam Ibnu Bathol dalam Syarah Hadits Bukhori-nya memasukkan hadits ini ketika menjelaskan hadits “pengabaian amanah”.

« فَإِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ »

“Jika amanah telah diabaikan maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari)

Yang termasuk pengabaian amanah adalah amanah tidak berjalan di atas jalan yang benar (haq), seperti mengangkat ulama yang bodoh (juhala) ketika telah wafatnya ahli ilmu, mengangkat para wali yang jahat dan penguasa yang buruk ketika kebatilan dan para pengikutnya telah menang (Syarah Bukhari li Ibn Bathal, juz 19 halaman 274, Maktabah Syamilah).

Deskripsi kondisi politik dan pemerintahan yang telah disampaikan Nabi SAW. telah menemui keniscayaannya. Dalam sistem demokrasi-liberal arena politik sarat dengan hal-hal artifisial dan profan. Mulai dari parpol, politisi dan kebijakan politik seringkali penuh dengan kemasan yang sering menipu publik. Bahasa politik sekarang namanya pencitraan.

Hari ini orang beramai-ramai melakukan rekayasa citra diri sebuah parpol atau politisi. Berlomba-lomba kesankan diri merakyat, anti korupsi, hingga munculkan akting mellow dramatic agar mengundang simpati, dll.

Manipulasi yang sekarang sedang tren adalah munculkan kelompok relawan. Parpol dan politisi menyebut para pendukungnya sebagai relawan, mengesankan kalau mereka melakukan hal itu sukarela padahal sebenarnya selalu ada deal-deal politik yang berjalan di antara mereka. Pada saat parpol atau politisi itu menang pasti berujung pada bagi-bagi kue kekuasaan.

Celakanya penipuan politik ini dilakukan banyak kalangan; media massa, para pakar bayaran, LSM, rakyat biasa hingga ulama. Media massa akan menurunkan berita-berita positif tentang parpol atau politisi yang mereka dukung, lalu menghujat dan membeberkan keburukan lawan politiknya. Para wartawannya diminta atau dipaksa setiap hari menuliskan berita-berita yang menaikkan citra parpol dan sang politisi.

Sementara kaum akademisi melacurkan keilmuan mereka dengan memuji-muji program parpol dan sang politisi sembari tutup mata dari cacat mereka. Membuat survey abal-abal yang manipulatif untuk menggambarkan kalau calon yang mereka dukung itu kapabel dan visioner.

Sedangkan rakyat biasa diminta jadi relawan dan mengatakan pihak yang mereka dukung adalah kelompok yang bersih dan pro-rakyat. Mereka bahkan lebih sadis karena membela dengan membabi buta di media sosial, termasuk mengeluarkan cacian kasar kepada lawan-lawan politik mereka.

Terakhir, ulama menjadi stempel mesin politik dengan menggunakan dalil-dalil agama. Mereka menerima kedatangan sang calon ke pondok atau majlis mereka, memberi restu dan nasihat ala kadarnya kepada calon yang mereka dukung.

Sungguh keadaan ini sudah dibeberkan oleh Nabi SAW. Hari ini orang-orang mendustakan orang yang benar, dan membenarkan kaum pendusta. Mempercayai pengkhianat tapi malah mengkhianati orang-orang yang terpercaya. Inilah era kedustaan dan kaya manipulasi dalam sejarah kehidupan umat manusia.

Siapa sebenarnya yang mengail keuntungan dari seluruh rangkaian manipulasi ini? Jawabannya adalah kaum kapitalis. Merekalah yang menggelontorkan dana besar-besaran untuk menjalankan mesin-mesin politik itu. Untuk selanjutnya saat seluruh rekayasa sosial itu berjalan, mereka juga yang mendapatkan keuntungan besar dari drama politik tadi.

Meski menjijikkan, tapi dalam sistem demokrasi liberal rekayasa politik yang penuh tipu daya ini adalah legal, apalagi bila sulit untuk dibuktikan.

Sikap yang diminta Nabi SAW. dari kita adalah berpegang pada Islam, lalu memalingkan diri dari para penguasa seperti itu. Tidak mengemis kekuasaan apalagi kekayaan. Justru wajib untuk terus memperjuangkan Islam agar kembali dapat ditegakkan di muka bumi dan menghilangkan taktik politik kotor tadi. Nabi SAW. bersabda:

« إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أَئِمَّةٌ تَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِىَ وَتَابَعَ »

“Sesungguhnya akan ada di tengah kalian para pemimpin yang kalian akui dan kalian ingkari, maka siapa yang mengingkari dia sungguh terbebas, dan siapa yang membencinya dia selamat, akan tetapi siapa yang ridlo dan mengikutinya (akan celaka).” (HR. Ibnu Majah).

Iwan Januar

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY