Foto: Istimewa

Kinerja Densus 88 kembali menjadi sorotan pasca tewasnya seorang warga sipil terduga teroris, Siyono penduduk Klaten. Pihak Polri kemudian mengungkap Siyono tewas karena melakukan perlawanan saat ditangkap pihak Densus sehingga akhirnya dilumpuhkan hingga tewas.

Namun keterangan Polri ditanggapi negatif oleh sejumlah tokoh masyarakat dan pengamat kepolisian serta terorisme. Mereka menyangsikan kebenaran informasi bahwa Siyono tewas karena melakukan perlawanan. “Boro-boro melakukan perlawanan, menggerakkan tangan saja ditembak mati,” ujar Mustofa B. Nahrawardaya dari Pengurus Pusat Muhammadiyah.

Pengamat terorisme dari CIIA (The Com­mu­nity of Isla­mic Ideology Ana­lyst) mengatakan kalau Densus 88 sering melakukan extra judicial killing (pembunuhan secara sewenang-wenang di luar putusan pengadilan) pada orang yang baru terduga teroris. Ia menambahkan sepanjang keberadaannya ada sekitar 120 orang menjadi korban salah tangkap Densus 88.

Senada dengan para pengamat lain, Netta S Pane dari IPW mengatakan kalau Densus saat ini sudah menjadi algojo. Semestinya Densus fokus pada proses pelumpuhan, bukan malah mengeksekusi mati pelaku teroris, apalagi yang masih berstatus terduga.

Selain itu, IPW juga memprihatinkan bahwa saat ini masyarakat justru malah mengapresiasi proses eksekusi di luar pengadilan yang dilakukan Densus. Padahal bisa jadi orang yang tewas belum benar-benar terbukti melakukan aksi terorisme.

Kejahatan Besar

Aksi extra judicial killing yang diperagakan Densus 88 memang patut dipertanyakan. Selain tidak transparan, organ anti teroris ini juga sulit untuk diaudit dan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk ketika terjadi proses salah tangkap, apalagi salah tembak hingga menyebabkan kematian. Densus 88 sudah berkembang menjadi organ superior, tidak bisa salah dan dipersalahkan. Pihak kepolisian selalu berdalih terjadinya penembakan adalah dalam rangka membela diri. Seperti dalam kasus tewasnya warga Klaten keterangan kepolisian berubah-ubah, dari semula mengatakan korban mengalami kelelahan karena melawan Densus hingga kemudian dinyatakan luka akibat terjadi perkelahian dengan anggota Densus.

Dalam tinjauan Islam, apa yang dilakukan Densus – yang merupakan duplikasi operasi anti teror ala Amerika Serikat – adalah kejahatan besar. Pertama, dalam Islam berlaku prinsip praduga tak bersalah. Seseorang belum bisa dinyatakan bersalah kecuali bila telah ada bukti (bayyinah) di pengadilan. Nabi SAW. berpesan kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. agar tidak menjatuhkan vonis sebelum berjalannya proses pembuktian di pengadilan. Sabdanya:

فَإِذَا جَلَسَ بَيْنَ يَدَيْكَ الْخَصْمَانِ فَلاَ تَقْضِيَنَّ حَتَّى تَسْمَعَ مِنَ الآخَرِ كَمَا سَمِعْتَ مِنَ الأَوَّلِ فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ الْقَضَاءُ

Jika duduk di hadapanmu dua orang yang berperkara maka janganlah engkau memutuskan hingga engkau mendengarkan pihak lain sebagaimana pihak yang pertama, karena hal itu akan lebih baik sehingga jelas bagimu dalam memutuskan perkara (HR al-Hakim. Menurutnya sahih dan disepakati oleh ad-Dzahabi).

Dalam banyak kasus, warga yang baru terduga atau tersangka banyak yang dijebloskan ke tahanan, mengalami siksaan bahkan kemudian tewas tanpa proses pengadilan terlebih dahulu.

Pihak anti teror seperti yang dibentuk AS, selalu berdalih bahwa terorisme adalah extraordinary crime, kejahatan luar biasa, sehingga aparat memiliki licence to kill, izin untuk membunuh siapa saja meski yang baru berstatus terduga teroris.

Kedua, dalam Islam menghilangkan nyawa seseorang baik muslim ataupun ahlu adz-dzimmah tanpa alasan yang dibenarkan hukum syara’ adalah dosa besar. Allah SWT. berfirman:

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا [٤:٩٣]

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (TQS. an-Nisa: 93)

Selanjutnya, syari’at Islam juga memberikan hak kepada keluarga korban untuk menuntut pelaku pembunuhan tersebut ke pengadilan agar diadili dan mendapatkan hukuman sesuai dengan syariat Islam. FirmanNya:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَن قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِف فِّي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنصُورًا [١٧:٣٣]

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. (TQS. al-Isra: 33)

Aksi Densus 88 patut dikaji ulang; apakah telah benar sesuai prosedur atau justru merekalah yang mempraktekkan extra ordinary crime. Lagipula aksi pemberantasan terorisme semacam itu justru menjadi stimulan bagi pihak lain untuk melancarkan aksi balas dendam kepada aparat. Jadi, alih-alih menghilangkan terorisme, Densus dan BNPT justru menciptakan lingkaran baru kekerasan. (Iwan Januar)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY