Foto: Iwan Januar

Hari ini, 3 Maret, semestinya hari berkabung bagi kaum Ahlus Sunnah dan Pecinta Salafus Salih, karena hari ini dalam sejarah adalah hari keruntuhan Pelindung Sunnah, yakni Khilafah Islamiyyah.

Khilafah adalah hukum syara’ yang telah disepakati kewajibannya oleh semua Ahlus Sunnah Sebagaimana perkataan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim (VI/291) menyatakan;

وأجمعوا على أنه يجب على المسلمين نصب خليفة ووجوبه بالشرع لا بالعقل

“Para ulama sepakat bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat khalifah. Kewajiban itu berdasarkan syariah, bukan akal.”

Imam Umar bin Ali bin Adil Al Hanbaliy, seorang ulama madzhab Hanbaliy menyatakan

هذه الآية دليلٌ على وجوب نصب إمام وخليفة يسمع له ويُطَاع ، لتجتمع به الكلمة ، وتنفذ به أحكام الخليفة ، ولا خلاف في وجوب ذلك بَيْنَ الأئمة إلاّ ما روي عن الأصَمّ ، وأتباعه أنها غير واجبةٍ في الدين

“…ayat ini adalah dalil atas wajibnya mengangkat seorang imam dan khalifah yang didengar dan ditaati,untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan, melalui khalifah, hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-Ashom dan yang mengikutinya (mengatakan) bahwa (khilafah) tidak wajib dalam agama.” (Imam Umar bin Ali bin Adil Al Hanbaliy, Tafsirul Lubab fii ‘Ulumil Kitab, juz 1 hal. 204)

Saya tidak akan berpanjang kalam menjabarkan pendapat para ulama Ahlus Sunnah tentang kewajiban mendirikan Khilafah dan menegakkan Syariat Islam, tapi mari berpikir jernih, bisakah di jaman sekarang ini kita melaksanakan Sunnah Rasulullah SAW. secara sempurna? Kita mungkin bisa menjalankan shalat sesuai Sunnah Nabi, tapi siapa yang bisa menjaga umat agar mereka menegakkan shalat? Cukupkah hanya kita yang shalat sementara umat diberi kebebasan antara menjalankan shalat atau melalaikannya? Bukankah semestinya ada umara’ yang menjaga umat agar menegakkan shalat? Sebagaimana Amirul Mukminin Umar bin Khaththab senantiasa mengirim surat kepada para gubernurnya agar memperhatikan shalat masyarakat.

إِنَّ أَهَمَّ أَمْرِكُمْ عِنْدِي الصَّلاَةُ، فَمَنْ حَفِظَهَا وَحَافَظَ عَلَيْهَا حَفِظَ دِينَهُ، وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ

”Sesungguhnya perkara yang kupandang paling penting di sisiku adalah shalat, siapa yang menjaganya maka ia telah menjaga agamanya, dan siapa yang melalaikannya maka selain shalat tentu lebih ia telantarkan lagi.”(al-Muwaththa, Imam Malik, juz 1 hal. 3)

Apakah para pemimpin sekarang memperhatikan shalat rakyatnya? Lebih jauh lagi, apakah mereka memperhatikan shalat umat sesuai Sunnah Nabi atau tidak?

Para khalifah juga menjaga umat dari perbuatan syirik, khurafat, bid’ah dan firqoh-firqoh sesat. Setelah Khalifah al-Mutawakkil menyadari kekeliruan para pendahulunya, beliau segera membebaskan Imam Ahmad bin Hanbal dari penjara. Khalifah al-Mutawakkil juga menangkapi para tokoh Mu’tazilah dan menghukum mereka karena telah menimbulkan fitnah di tengah umat Islam.

Lalu siapa kini yang melindungi umat dan menegakkan Sunnah Nabi SAW.? Adakah pemimpin yang melakukannya? Bahkan para pemimpin Arab yang menyatakan Ahlus Sunnah pun mendiamkan eksistensi kelompok Syiah sesat Nusairiyah di Syams, justru malah bersekutu dengan imperialis Barat untuk menggempur kelompok Sunni yang berjihad melawan Rezim Bashir Assad yang telah terang benderang kesesatannya dan kezalimannya, dengan dalih memerangi terorisme ISIS. Padahal Barat bukan sekedar menggempur ISIS tapi juga mujahidin Sunni lainnya yang bertahan dari kezaliman dan kesesatan Nusairiyyah di tanah Syams.

Khilafah juga akan menegakkan sunnah Nabi dengan mencegah dan menghukum kaum zindiq dan ahlul hawa seperti LGBT, dan kalangan liberal. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di tanah air karena dilindungi oleh “sunnah” demokrasi dan liberalisme.

Khilafah akan menegakkan syariat Islam yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah, sesuatu yang telah menjadi ma’lum min ad-din bi adl-dlarurah. Karena Ahlus Sunnah meyakini hasan wa qabih (terpuji dan tercela) adalah bersumber dari wahyu atau Syara’, bukan akal manusia. Sebagaimana kaidah ushul Ahlus Sunnah:

إنَّ الْحَسَنَ مَا حَسَّنَهُ الشَّرْعُ ، وَالْقَبِيحَ مَا قَبَّحَهُ

”Sesungguhnya al-hasan (terpuji) adalah apa yang dipuji syara’, dan al-qabih (tercela) adalah apa yang dicela oleh syara’.”

Sedangkan kalangan Mu’tazilah berpendapat al-Hasan wa al-Qobih ditentukan oleh akal, sedangkan hukum syara’ hanya menguatkannya belaka (Syaikh Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islamiy, hal. 117).

Sedangkan kini siapakah yang menentukan al-hasan wa al-qobih di gedung parlemen, dalam perundang-undangan? Akal ataukah Syara’? Faktanya dapat kita lihat akal mengalahkan Syara’. Apa kesimpulan kita; apakah demokrasi-liberalisme sesuai dengan pandangan Ahlus Sunnah, ataukah Mu’tazilah? Padahal Mu’tazilah sendiri masih meyakini hukum syara’ adalah aturan bagi umat Islam. Berarti sekarang kondisinya lebih rusak ketimbang Mu’tazilah.

Jangan ragu lagi, menegakkan Khilafah dan Syariah adalah kewajiban yang telah disepakati Ahlus Sunnah. Bila masih meragukannya, maka bukalah kembali kitab-kitab agung warisan para ulama Ahlus Sunnah. Sungguh disana hanya kekhilafahan dan hukum syara’ yang diwajibkan, selainnya tidak.

Bila saya, Anda, dan kita adalah Ahlus Sunnah, mari bergandengan tangan memperjuangkan warisan agung Rasulullah SAW., para Khulafa ar-Rasyidin, dan para ulama agung dari kalangan Ahlus Sunnah.

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلاَلَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat sekalipun (yang memerintah kalian) budak Habsyi, karena sesungguhnya orang yang hidup sepeninggalku di antara kalian akan melihat perbedaan yang banyak, dan hati-hatilah kalian terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya itu adalah kesesatan, maka siapa di antara kalian yang mendapati hal itu wajiba atasnya berpegang pada SUNAHKU DAN SUNNAH KHULAFA AR-RASYIDIN yang mendapatkan petunjuk, gigitlah oleh kalian dengan geraham.”(HR. Tirmidzi).

Telah jelas bahwa demokrasi, liberalisme, kerajaan, kekaisaran bukanlah Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafa ar-Rasyidin. Mengapa kita harus ‘menggigitnya dengan geraham’ kita? (Iwan Januar)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY