Foto: Istimewa

Menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah adalah dambaan setiap insan ketika membangun sebuah rumah tangga. Darimana sebenarnya komitmen untuk membangun rumah tangga samara itu bermula? Keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah bermula dari sebuah janji antara seorang laki-laki dan perempuan yang sudah berazam untuk mengarungi kehidupan bersama. Janji itu disebut dalam Al-Qur’an Allah SWT menyebutnya dengan ”miitsaqon ghalidzo” perjanji yang kuat (QS. An-Nisaa:21).

Tapi, jauh sebelum akad itu berlangsung sebenarnya komitmen menikah harus dimiliki oleh calon suami dan istri. Ya, komitmen atau azzam untuk menikah dimulai dari awal saat ta’aruf atau khitbah. Jika azzam itu tidak dimiliki oleh seorang laki-laki misalnya, maka dia hanya akan just for trial, coba-coba untuk ta’aruf siapa tahu cocok. Jadi menikahnya hanya sebatas keinginan. Demikian juga sebaliknya, seorang perempuan jika tidak memiliki azam untuk menikah, maka dia menerima khitbah hanya sekadarnya.

Oleh karena itu komitmen membentuk keluarga samara, disiapkan semenjak kita pertama kali punya azzam untuk menggenapkan diin ini. Selanjutnya komitmen atau azzam itu terlembagakan dalam sebuah janji atau akad pernikahan yang mengikat antar keduanya. Sebuah janji yang meskipun hanya berlangsung dalam hitungan detik, ketika sang calon pengantin laki-laki bersalaman dengan wali si perempuan dan mengucapkan ijab qabul. Namun dari janji itulah muncul konsekuensi. Itulah kenapa disebut mitsaqon ghalidza.

Sejak saat itu telah terjadi peralihan tanggung jawab seorang perempuan yang sebelumnya asing buat kita, lalu diserahkan dari seorang ayah kepada seorang lelaki yang dipercayakan menjadi suaminya. Sang suamilah yang berikutnya memikul tanggung jawab mengasuh, merawat dan memenuhi hak-hak hidup seorang perempuan bernama istri.

Bukan hanya hak hidup berupa fisik atau materi, melainkan hak hidup berupa nafkah batin. Pelayanan, kasih sayang, perlakuan yang ma’ruf juga menjadi hak istri yang merupakan kewajiban suami untuk memenuhi. Demikian sebaliknya, seorang perempuan ketika usai akad nikah, dia telah menjadi sosok isteri. Berbeda dengan sebelumnya yang statusnya seorang gadis bisa berjalan-jalan santai dengan teman gaulnya. Tapi setelah menjadi isteri, surga-nerakanya istri ada pada suami.

Maka kedua-keduanya harus bekerja secara bersama-sama untuk membuat bangunan sebuah rumah tangga samara. Sehingga adalah sebuah kesalahan besar ketika dalam perjalanan rumah tangga, satu pihak menyalahkan pihak lainnya ketika sebuah rumah tangga samara tidak terbentuk. Harusnya antar keduanya saling bekerja sama membentuk bangunan itu. Sepasang suami-istri adalah arsitek, mereka berdualah yang merekontruksi sebuah wujud keluarga samara itu seperti apa.

Sehingga impian sebuah keluarga samara hanya akan menjadi impian belaka, jika masing-masing tidak menjalankan konsekuensinya berupa hak dan kewajiban sebagai suami-istri maupun ketika sudah hadirnya buah hati. Dengan pemenuhan konsekuensi hak dan kewajiban seperti yang sudah digariskan oleh Islam, kemudian menjalankannya dengan penuh tawadhu (ketaatan) kepada Allah, serta tawazun (seimbang) antara hak dan kewajiban, maka disitulah bangunan keluarga samara bisa terwujud dengan sukses. []

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY