M. Irfan - Ketua DPD II HTI Kota-Bogor

Bogoraya.com, Bogor – Menanggapi maraknya tawuran pelajar yang ada di Kota Bogor selama ini, Muhammad Irfan, Ketua DPD II HTI Kota Bogor angkat bicara. Pasalnya, pendidikan agama yang ada selama ini belum menjadi prioritas dan materi pembelajarannya perlu diperbaharui. “Sudah tidaknya menjadi prioritas pembelajaran agama di sekolah, ditambah lagi tidak ada konektifitas terhadap negara. Karena materi pelajaran yang ada disekolah harus bisa bersinergi dengan kehidupan setelah sekolah,” ujarnya pada bogoraya.com, saat bertemu selepas salat zuhur di salah satu masjid di Loji, Kota Bogor.

Ia pun memberikan contoh mengenai kesinambungan antara pendidikan sekolah dan negara. “Contoh pesantren yang notabene itu mempelajari agama yang menjadi mayoritasnya, namun setelah mereka lulus dan dilempar ke masyarakat, ternyata masih banyak yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama. Dan tak sedikit juga yang bergelut di bidang politik yang akhirnya korupsi, maka dari itu peran pemerintah dan negara harus ikut dengan membuat peraturan yang tegas,” lanjutnya.

Ketua DPD II HTI Kota Bogor ini pun melanjutkan, ketika pelajaran agama hanya diterapkan di sekolah saja. “Ketika anak SD diajarkan  dan diberitahu bahwa shalat itu wajib, berhijab itu wajib, dan mencuri itu ada hukumannnya, tapi ketika dia pulang sekolah masih melihat orang yang tidak shalat, mencuri masih bisa lolos, otomastis pola pikir si anak akan tidak terserap dengan baik, karena apa yang ia pelajari disekolah berbeda dengan kehidupan diluar sekolah,” tandasnya. Irfan pun berharap, selain materi dan jam pelajaran khususnya agama yang ditingkatkan, namun dari segi pengajar atau guru harus lebih diselektif kembali. (RF)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY