Foto: istimewa

“…Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah, lagi memelihara diri di balik ketiadaan suaminya oleh karena Allah telah memelihara mereka. (QS An Nisaa : 34)

‘Aisyah ra. suatu kali pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Siapakah orang yang paling besar haknya terhadap perempuan?” Dijawab beliau: “Suaminya.” Lalu ‘Aisyah bertanya lagi: ”Siapakah haknya yang paling besar terhadap laki-laki?” Beliau jawab: ”Ibunya”. (HR. Hakim)

Abdullah bin Amr berkata: “Rasulullah suatu kali bersabda: ‘Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang terbaik terhadap istri-istri mereka”. (HR. Ibnu Majah)

Sulaiman bin Amr bin Al Ahwasy, salah seorang sahabat yang turut menghadiri Haji Wada’, meriwayatkan, ”Setelah Rasulullah mengucapkan hamdalah memuji Allah, beliau lalu mengingatkan dan memberi nasehat, beliau bersabda: “Berilah nasehat kepada kaum wanita dengan cara yang baik, karena sesungguhnya itu mereka berada disisimu sebagai tawananmu dan kamu tidaklah memperbudak mereka sedikitpun selain daripada itu, kecuali kalau mereka melakukan perbuatan keji secara terang-terangan. Maka jika mereka telah melakukan tersebut, hendaklah engkau kucilkan mereka dari tempat tidurnya dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai dirinya. Tetapi jika mereka kembali taat kepadamu, janganlah kamu mencari alasan apa pun untuk melakukan sesuatu yang tidak baik kepada mereka, karena sesungguhnya kamu mempunyai hak terhadap diri istri-istri kamu sebagaimana mereka juga mempunyai hak atas diri kamu. Adapau hak kamu terhadap istri-istri kamu ialah mereka tidak boleh menempatkan seseorang di atas tempat tidur kamu terhadap orang yang kamu benci. Ketahuilah sesungguhnya hak mereka atas diri kamu ialah kamu memperlakukan mereka secara baik dalam memberi pakaian dan makanan kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah)

Hakim bin Mu’awiyah mendapatkan riwayat ini dari bapaknya, bahwa seseorang laki-laki pernah ditanya kepada Nabi saw, “Apakah hak istri terhadap suaminya?” Beliau menjawab: “Hendaknya suami itu memberi makan kepadanya jika ia makan, tidak boleh memukul mukanya; tidak boleh mengucilkannya kecuali didalam rumahnya sendiri. (HR. Ibnu Majah)

Dikisahkan oleh Ibnu Baththah dalam kitab Ahkamun Nisaa’, bahwa ada seorang laki-laki melakukan safar (perjalanan) dan melarang isterinya keluar dari rumahnya. Lalu terdengar bahwa ayah wanita itu sakit, maka ia pun meminta izin kepada Rasulullah untuk menjenguk ayahnya. Jawab Rasulullah saw: “Hai wanita takutlah kepada Allah, jangan kamu melanggar perintah suamimu.” Akhirnya sang ayah pun meninggal, dan wanita itu berusaha untuk meminta izin Rasulullah menghadiri pemakaman ayahnya. Rasulullah menjawab: “Hai wanita takutlah kepada Allah, jangan kamu melanggar perintah suamimu”. Maka turunlah wahyu kepada Nabi saw: “Telah Aku beri ampunan pada wanita itu dengan ketaatannya kepada suaminya.”

Ibnu Abas meriwayatkan sabda Rasulullah: “Diantara hak suami atas isterinya, hendaknya sang isteri tidak berpuasa sunnah kecuali seizin suaminya.”

Dari Abu Hurairah, bahwa rasulullah pernah bersabda: “Apabila suaminya mengajak isterinya ketempat tidurnya, lalu ia menolak ajakan tersebut hingga suaminya menjadi marah semalaman, maka para malaikat akan melaknatinya sampai tiba subuh.”

Abdurrahman bin Auf mengatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Apabila seorang wanita telah mengerjakan shalat yang lima waktu, mengerjakan puasa Ramadhannya, memelihara kehormatannya dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah kedalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai” (HR. Thabrani) []

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY