BOGORAYA - Dakwah Out of The Box | http://bogoraya.com
BOGORAYA - Dakwah Out of The Box | http://bogoraya.com

Bogoraya.com – Beberapa tahun silam seorang tokoh masyarakat dan keagamaan Bogor yang mengenal saya termasuk kalangan pro perjuangan syariat dan Khilafah, berkata pada saya dengan nada minor, “Dibanding Arab Saudi masih mending Indonesia.”

Sejenak saya tertegun kemudian saya menjawab pernyataannya, “Hapunten Kyai, mending bagaimananya?” kemudian saya paparkan sejumlah persoalan sosial di kawasan Bogor dan sekitarnya, seperti maraknya prostitusi termasuk kawin kontrak, dll. Beliau gantian yang terhenyak, kemudian pamit pergi tidak melanjutkan percakapan.

* * * *

Percakapan singkat yang saya alami menjelaskan sedikit alasan mengapa masih ada saja elemen umat yang salah memahami bahkan memicingkan mata terhadap dakwah penegakkan syariat dan khilafah. Persoalannya justru berasal dari tubuh kita sendiri, umat Islam, tak terkecuali tokoh-tokoh umat.

Dakwah penegakkan syariat dan Khilafah akan begelora dan dinamis manakala kesadaran umat akan berbagai persoalan mereka telah dirasakan dan dipahami jalan keluarnya. Tapi bila umat belum juga sadar akan bahaya yang mengancam mereka, sampai kapanpun mereka tak akan mau bangkit dan melawan.

Kesadaran ini yang nampaknya belum menyentuh semua komponen umat termasuk tokoh-tokoh mereka. Banyak dari mereka yang merasa bahwa Indonesia ini masih baik-baik saja, tak banyak persoalan dan tak perlu dikhawatirkan. Sehingga tak ada hasrat dari mereka untuk melakukan gerakan perubahan di tengah umat.

Kalangan ini biasanya hidup di tengah-tengah komunitas yang memang menenangkan karena penuh dengan ibadah. Hidup dari pesantren ke pesantren, dari majlis talim ke majlis talim, hadir di tengah para santri yang giat beribadah. Mereka nyaris tak melihat bahwa di luar komunitas itu berserakan persoalan umat. Mulai dari isu terorisme hingga LGBT.

Dakwah yang mereka sampaikan juga berujung pada ibda bi nafsika, kesalehan pribadi. Mudahnya, agar diri tak terbawa rusak oleh lingkungan maka bentengi diri dengan mendekatkan diri kepada Allah. Titik.

Melihat kelompok umat bertipe demikian ada baiknya kita melihat tesis Hujjatul Islam Imam al-Ghazali. Penulis Ihya Ulumuddin ini mengatakan bahwa manusia terbagi menjadi empat golongan; di antaranya adalah rajulun yadri wa laa yadri annahu yadri – orang yang tahu tetapi dia tidak tahu dirinya tahu. Menurut al-Ghazali mereka adalah orang alim tetapi tidak sadar akan kealiman mereka. Pada akhirnya keilmuan mereka tidak berdampak bagi umat.

Keadaan ini bisa terjadi karena mereka sudah merasa puas dan tuma’ninah dengan lingkungan di sekitarnya. Sehingga tak tergerak melihat kondisi nyata umat yang telah lama dibekap kerusakan. Sebagian dari mereka juga menutup mata dan telinga dari berbagai informasi ihwal kondisi umat yang mengenaskan. Ujungnya, mereka tak tergerak untuk melakukan perubahan.

Imam al-Ghazali menyatakan bahwa golongan ini adalah orang alim yang ‘tertidur’, mereka harus dibangunkan. Dalam bahasa kekinian mereka adalah orang yang berada dalam inbox. Berada dalam kotak lingkungan mereka. Seseorang yang berada dalam sebuah kotak pastinya akan merasa bahwa apa yang mereka ketahui dan kerjakan sudah optimal, sudah segalanya. Padahal belum.

Di sinilah tugas para pengemban dakwah yang telah sadar membongkar kotak itu dan mengajak mereka keluar dari kotak sempit yang memenjarakan pemikiran dan keilmuan mereka. Memperlihatkan pada mereka bahwa umat berada di ujung jurang kehancuran. Bagaimana Barat dengan segala kejahatannya berusaha menghancurkan Islam dan umat Islam sehancur-hancurnya. Agar mereka sadar bahwa keilmuan kaum alim ini adalah udara segar bagi umat yang sudah lama menghirup gas beracun yang dilepas Barat ke atmosfir kaum muslimin.

Banyak orang alim dan tokoh umat yang tidak kalau kekayaan alam Indonesia sudah dirampok negara-negara asing silih berganti dari Barat hingga Cina. Banyak tokoh umat yang juga tidak sadar kalau umat dijejali ide kebebasan seperti seks bebas, Valentine hingga LGBT. Bahwa pemimpin mereka adalah agen komprador asing yang menjual murah jiwa dan raga umat kepada kaum imperialis.

Alhamdulillah, tidak sedikit tokoh umat dan para ulama, termasuk kyai di pelosok negeri yang semula berpandangan miring pada dakwah pro syariah dan khilafah akhirnya mampu dibuat sadar dengan realitas umat. Mereka tersentak, kaget dan merintih saat diperlihatkan kondisi umat yang sebenarnya . Mereka lalu sadar bahwa selama ini sudah terbuai dengan keadaan diri dan kurang peka dengan nasib umat.

** * **

Apa yang harus dikerjakan saat ini? Ikuti nasihat Imam al-Ghazali, masyarakat dan tokoh-tokoh umat harus dibangunkan dari tidur panjang mereka. Ajak mereka dalam dakwah out of the box. Perbaikan umat tidak cukup hanya menempa diri menjadi insan soleh, tapi juga harus melakukan perubahan sosial di tengah-tengah umat. Maka jangan pernah berhenti melakukan gerakan penyadaran. Sungguh, kita hanya bertugas mengantarkan kesadaran ini bagi mereka yang mau terbangun dari tidur panjangnya agar bergegas menyingsingkan lengan baju lalu membangun umat. Keluar dari kotak sempit yang telah mengungkung pemikiran dan keilmuan mereka. (Iwan Januar)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY