Foto: istimewa

Bogoraya.com – Setiap manusia pasti pernah mengalami musibah, apakah berupa sakit, kesempitan dalam rizki atau kehilangan orang yang kita sayangi. Apapun bentuknya, besar atau kecil musibah yang datang merupakan sunatullah. Tidak mungkin manusia dibiarkan terus dalam keadaan senang dan selalu berada dalam kenikmatan sebelum diuji oleh Allah SWT.

Firman Allah dalam surat Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu konsekuensi keimanan, kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam beriman, apakah iman kita bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan.

Maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.

“Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan keseng-saraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah 214).

Sifat manusia memang suka berkeluh kesah. Ditimpa musibah sedikit saja menganggap bahwa dia yang paling menderita diantara manusia lain. Coba renungkan musibah apa yang paling berat yang kita alami. Apakah sebanding dengan perjuangan para sahabat dalam mempertahankan iman mereka. Sahabat Khabbab Ibnul Arats mengisahkan.

“Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya…”. (HR. Al-Bukhari, dalam Fathul Bari, Juz 7 hal. 202).

Masya Allah, bayangkan tubuh kita terkelupas kulit dari tulang dan tubuh kita digergaji. Membayangkannya saja bulu kuduk kita merinding. Namun para sahabat tak gentar sedikitpun, tak luntur iman didalam dada mereka. Bahkan mereka merindukan surga yang telah tampak didepan mata.

Tanyalah pada diri kita, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita? Apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan aqidah dan iman kita? Apakah kita rela mengorbankan harta, tenaga, pikiran, bahkan mengorbakan nyawa dijalan Allah? (FAR)

Bersambung.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY