Foto: istimewa

Cemburu bisa menjadi bara dalam sekam yang bisa memicu perpecahan dalam rumah tangga. Namun ada cemburu yang justru harus ada dalam sebuah keluarga. Cemburu produktif, ya inilah sebuah cemburu yang justru akan membuat keluarga (suami-isteri) menjadi semakin sakinah. Cemburu produktif ini adalah cemburu yang dianjurkan dan termasuk cemburu yang syar’i.

Nah, pada keadaan dan hal seperti apa saja kita boleh dan harus cemburu?

Pertama, cemburu karena pakaian. Seorang suami yang shalih tentu tidak akan membiarkan isterinya yang shalihah ketika keluar rumah tidak mengenakan pakaian diluar rumah yang disyariatkan oleh Islam. Seperti kita pahami bersama bahwa wanita muslimah ketika keluar rumah, dia tidak cukup hanya mengenakan pakaian sehari-hari di rumah, tapi syariat Islam telah mewajibkan harus memakai jilbab (QS. Al Ahzab 59) dan kerudung (QS. An-Nur 31).

Maka sebagai seorang suami yang shalih, harusnya kita cemburu ketika melihat isteri kita keluar rumah tidak memakai jilbab dan kerudung, karena disamping dia tidak menutup auratnya, yang sudah pasti auratnya akan ‘dinikmati’ pria-pria lain diluar sana. Tapi juga seorang suami harus cemburu pada kondisi seperti itu, karena jika seperti itu keadaannya, sang istri menomorsekiankan perintah Allah Swt.

Masih seputar cemburu karena pakaian, maka seorang suami seandainya isteri sudah berpakaian menutup aurat ketika keluar rumah, akan tetapi ternyata melakukan tabaruj dengan pakaian serta dandanannya (QS. An-Nur 60). Maka dalam kondisi seperti itu, suami harus cemburu, karena Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisaan al-’Arab menyatakan; “Wa al-tabarruj: idzhaar al-mar`ah ziinatahaa wa mahaasinahaa li al-rijaal (tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan anggota tubuh untuk menarik perhatian laki-laki non mahram.”

Apa saja yang terkategori tabaruj? Di antaranya adalah berwangi-wangian ketika keluar rumah, sebagaimana Rasulullah Saw ingatkan : Siapapun wanita yang memakai wangian kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, berarti ia telah berzina.”[HR. Imam al-Nasaaiy]

Kemudian, berpakaian tipis dan berjalan bak peragawati :  “Betapa banyak wanita-wanita yang telanjang, berpakaian tipis merangsang,  dan berlenggak-lenggok.  Mereka tidak akan masuk ke dalam surga dan mencium baunya.” [HR. Imam Bukhari].

Kedua, cemburu karena interaksi dengan lawan jenis. Ya, baik suami ataupun isteri masing-masing boleh bahkan kalau bisa memang harus cemburu ketika pasangannya berinteraksi dengan lawan jenisnya terlalu intens, terlalu mesra, bahkan terlalu intim. Nuadzubillah min dzalik.

Menjaga pergaulan dengan lawan jenis yang bukan mahram menjadi suatu keharusan yang kita lakukan, selain karena status kita sebagai suami atau istri. Seperti kita bisa lihat pada sabda Rasulullah Saw :

“Tiada bersepi-sepi (berada di tempat yang sunyi) seorang lelaki dengan perempuan, melainkan syaithan merupakan orang yang ketiga diantara mereka” (HR. Tirmidzi)

Apalagi dengan merebaknya sosial media yang sudah ada di gadget kita masing-masing, bisa berpeluang untuk memudahkan kita berinteraksi dengan siapapun, termasuk lawan jenis. Etikanya, seorang suami atau isteri ketika berinteraksi, entah itu berbicara langsung maupun via online, maka tidaklah melanggar apa yang telah digariskan oleh syariat. Khusus ketika berbicara dengan lawan jenis, perhatikan peringatan Allah SWT:

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara dengan mendayu-dayu sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (QS. Al Ahzab: 32)

Tidak hanya cara kita berinteraksi dengan lawan jenis yang harus diperhatikan, tapi juga adalah intensitas alias terlalu seringnya kita berinteraksi dengan lawan jenis, sementara dengan suami-isteri kita sendiri malah jarang-jarang, maka pantaslah jika pasangan kita cemburu. Apalagi bagi para Da’i yang jika diluar rumah bertemu dengan ibu-ibu pengajian bisa sopan dan santun tapi ketika dengan isteri sendiri justru sebaliknya. “Nasihatilah perempuan dengan cara yang baik! Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, sementara yang paling bengkok itu bagian teratasnya. Jika engkau bersikeras meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika engkau membiarkannya, ia akan bengkok selamanya. Maka nasihatilah perempuan dengan cara yang baik!” (HR Bukhari, Muslim, Ibnu Abi Syaibah, dan Baihaqi)

Ketiga, cemburu karena menceritakan lelaki/wanita lain. Rasulullah Saw dalam sabdanya: “Janganlah seorang istri menceritakan seorang perempuan lain lalu menyifati (kecantikan) wanita itu kepada suaminya seakan-akan ia (suami) melihatnya.” (HR. Bukhari 5240, dari hadits Abdullah bin Mas’ud).

Membading-bandingkan isteri atau suami kita dengan pria atau wanita lain, juga memicu cemburu salah satunya, sehingga pada kasus seperti itu wajar dan boleh pasangan kita cemburu.

Itulah di antara cemburu yang dianjurkan, cemburu yang dibolehkan. Rasulullah Saw bersabda: “Ada jenis cemburu yang dicintai AllahSubhanahu wa Ta’ala, adapula yang dibenci-Nya. Yang disukai, yaitu cemburu tatkala ada sangkaan atau tuduhan. Sedangkan yang dibenci, yaitu adalah yang tidak dilandasi keraguan”[]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY